Sudutkota.id – Antusiasme warga terhadap dry fountain atau air mancur lantai di Alun-Alun Merdeka Kota Malang belum genap sebulan berubah menjadi sorotan. Fasilitas yang sebelumnya dipuji sebagai ikon baru ruang publik itu kini dikeluhkan karena munculnya bau tak sedap yang diduga berasal dari air yang tercemar.
Keluhan warga ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pengunjung mengaku mencium bau pesing saat anak-anak bermain di area pancuran. Kondisi ini memicu pertanyaan soal sistem filtrasi dan pengelolaan kebersihan fasilitas yang setiap hari dipadati masyarakat.
Konsep open fountain memungkinkan pengunjung, terutama anak-anak, berlarian dan bermain air langsung di permukaan lantai pancuran. Sejak dioperasikan, kawasan tersebut hampir tak pernah sepi, khususnya pada sore dan malam hari. Namun tingginya interaksi langsung dengan air membawa konsekuensi pada aspek kebersihan.
Di lapangan, tampak petugas berseragam Pemkot Malang berjaga di sekitar area untuk mengawasi aktivitas pengunjung dan mengingatkan agar tidak membuang sampah maupun buang air kecil sembarangan. Kehadiran petugas diapresiasi, tetapi dinilai belum cukup jika sistem perawatan air tidak berjalan optimal.
Ketua Komisi D DPRD Kota Malang, Eko Herdianto, menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan dry fountain. Menurutnya, perubahan desain dari kolam tertutup menjadi sistem terbuka meningkatkan risiko pencemaran.
“Dulu modelnya kolam berpagar, masyarakat tidak bisa masuk langsung sehingga kebersihan relatif lebih terkontrol. Sekarang sistemnya terbuka, bisa untuk mandi dan bermain. Tentu risikonya lebih besar,” ujarnya, Rabu (11/2/2026).
Ia menyoroti kemungkinan tercampurnya air dengan kotoran akibat tingginya intensitas penggunaan, termasuk potensi anak-anak buang air kecil di lokasi.
“Kalau filter dan sirkulasinya tidak maksimal, bau pasti muncul. Ini harus dievaluasi dari sisi teknis, mulai sistem water treatment, kapasitas pompa, sampai frekuensi pengurasan,” tegasnya.
Eko meminta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) serta UPT pengelola Alun-Alun Merdeka melakukan pengecekan berkala dan meningkatkan intensitas perawatan. Ia bahkan menyarankan pengurasan dilakukan lebih rutin, menyesuaikan tingkat kunjungan.
“Jangan sampai ikon baru kota justru menjadi sumber keluhan. Perawatan harus ekstra, jangan dikurangi personelnya,” tambahnya.
Meski demikian, ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga kebersihan fasilitas umum. Pengawasan terhadap anak-anak saat bermain air dinilai menjadi kunci agar pencemaran bisa dicegah.
“Ini tanggung jawab bersama. Orang tua harus mengarahkan anak ke toilet jika ingin buang air kecil. Fasilitas ini dibangun untuk dinikmati bersama, jadi harus dijaga bersama,” pungkasnya.





















