Sudutkota.id – Lebih dari empat dekade setelah Harimau Jawa dinyatakan punah, pertanyaan besar tentang siapa penjaga keseimbangan ekosistem Pulau Jawa akhirnya mulai terjawab. Jawaban itu terungkap dalam sebuah riset yang dipaparkan di Universitas Negeri Malang (UM), Senin (9/2/2026), melalui kuliah tamu Departemen Geografi Fakultas Ilmu Sosial.
Adalah Andhika Ariyanto, kandidat doktor dari ITC, University of Twente, Belanda, yang mempresentasikan temuan ilmiahnya tentang peran strategis Macan Tutul Jawa sebagai predator puncak yang kini memikul tanggung jawab ekologis pascakepunahan Harimau Jawa.
Kepunahan predator utama sejak era 1980-an telah meninggalkan “ruang kosong” dalam rantai makanan. Dampaknya bukan sekadar hilangnya satu spesies, tetapi ancaman ketidakseimbangan ekosistem yang berkelanjutan.
“Ketika predator berkurang, populasi herbivora akan meningkat tanpa kontrol. Ini memicu overgrazing dan merusak regenerasi hutan,” jelas Andhika dalam paparannya.
Alih-alih mencari Macan Tutul secara langsung, Andhika memilih pendekatan berbeda, yakni memetakan keberadaan mangsanya. Prinsipnya sederhana namun krusial, di mana mangsa hidup dan berkembang, di situlah predator bertahan.
Penelitian lapangan dilakukan di empat taman nasional strategis di Pulau Jawa: Ujung Kulon dan Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat, serta Meru Betiri dan Alas Purwo di Jawa Timur. Selama hampir 100 hari, kamera jebakan dipasang di berbagai titik untuk merekam aktivitas satwa liar seperti babi hutan, rusa, dan kancil.
Hasilnya, delapan jenis mangsa utama berhasil diidentifikasi dan dianalisis secara spasial menggunakan metode species distribution modeling.
Analisis data menunjukkan bahwa kedekatan dengan hutan primer dan sekunder menjadi faktor paling menentukan dalam keberadaan mangsa. Semakin jauh dari kawasan hutan, semakin rendah keragaman dan jumlah satwa.
Berdasarkan peta sebaran mangsa tersebut, Andhika kemudian memprediksi wilayah jelajah Macan Tutul Jawa. Temuan yang muncul cukup mencengangkan, 94 persen kemunculan Macan Tutul berada di wilayah yang memiliki enam hingga delapan jenis mangsa.
Temuan ini memperkuat posisi Macan Tutul Jawa sebagai umbrella species, yakni spesies payung yang keberadaannya mencerminkan kesehatan ekosistem secara keseluruhan.
Meski demikian, riset ini juga menyoroti ancaman serius. Alih fungsi lahan, pertanian, dan pemukiman telah menyebabkan hutan-hutan di Jawa terfragmentasi, memutus jalur jelajah alami satwa liar.
Sebagai solusi, Andhika mengembangkan skenario koridor ekologis yang menghubungkan habitat-habitat terpisah, baik melalui koridor alami maupun rehabilitasi hutan yang pernah ada.
“Rehabilitasi hutan penghubung terbukti meningkatkan konektivitas habitat secara signifikan. Ini krusial bagi kelangsungan hidup Macan Tutul dan ekosistemnya,” tegasnya.
Menggunakan pendekatan analisis jaringan, ia menunjukkan bahwa pemulihan hutan bukan hanya tindakan konservasi, tetapi investasi ekologis jangka panjang.
Kuliah tamu ini tidak hanya menyajikan data akademik, tetapi juga kisah ketekunan ilmuwan lapangan tentang menembus hutan berhari-hari, membawa peralatan berat, hingga menunggu hasil kamera yang tak selalu memberi kepastian.
Penelitian ini menegaskan bahwa pelestarian Macan Tutul Jawa bukan isu tunggal, melainkan kerja multidimensi yang melibatkan ilmu ekologi, pemodelan spasial, serta komitmen rehabilitasi lingkungan.
“Selama masih ada generasi yang memahami ekologi dan bertindak berdasarkan ilmu pengetahuan, harapan menjaga keseimbangan alam Jawa tetap hidup,” pungkas Andhika.






















