Daerah

Alun-Alun Merdeka Kota Malang Darurat Anak Terpisah dari Orang Tua

17
×

Alun-Alun Merdeka Kota Malang Darurat Anak Terpisah dari Orang Tua

Share this article
Alun-Alun Merdeka Kota Malang Darurat Anak Terpisah dari Orang Tua
Suasana area playground Alun-Alun Merdeka Kota Malang pada malam hari yang dipadati pengunjung, kondisi ini kerap memicu anak terpisah dari orang tua akibat kurangnya pengawasan.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Fenomena anak terpisah dari orang tua di kawasan Alun-Alun Merdeka Kota Malang kian mengkhawatirkan. Sejak dibuka kembali untuk publik, hampir setiap hari petugas menerima laporan anak yang tersesat atau kehilangan pendamping, terutama saat akhir pekan dan jam padat pengunjung.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran, mengungkapkan bahwa angka kasus anak terpisah tergolong tinggi dan terjadi secara berulang.

“Informasi dari teman-teman Satpol PP, rata-rata setiap hari ada sekitar 20 anak yang dilaporkan terpisah dari orang tuanya. Bahkan pada Minggu kemarin jumlahnya mencapai 36 anak,” ujar Raymond, Senin (2/2/2026).

Menurutnya, mayoritas kasus terjadi karena anak-anak ditinggal bermain sendiri di area Alun-Alun, sementara orang tua atau pendamping meninggalkan lokasi untuk berbelanja, beribadah, atau melakukan aktivitas lain di sekitar kawasan pusat kota.

“Ini yang menjadi persoalan serius. Alun-Alun seolah dijadikan tempat penitipan anak sementara. Anak dibiarkan bermain, sementara orang tuanya pergi ke pusat perbelanjaan atau ke masjid,” tegasnya.

Raymond menilai kebiasaan tersebut sangat berisiko, mengingat tingginya kepadatan pengunjung dan luasnya area Alun-Alun. Dalam kondisi ramai, anak-anak sangat rentan tersesat, panik, bahkan berpotensi mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Ia juga mengakui, keterbatasan jumlah petugas di lapangan membuat penanganan kasus anak terpisah tidak selalu mudah. Bahkan, jumlah anak yang dilaporkan hilang kerap lebih banyak dibandingkan jumlah personel pengamanan yang bertugas.

“Jumlah anak yang terpisah ini bisa lebih banyak dari petugas yang ada. Ini tentu menyulitkan, apalagi kalau laporan masuk bersamaan,” ungkapnya.

Sebagai langkah evaluasi, Pemkot Malang saat ini tengah melakukan perbaikan sistem pengeras suara (sound system) di kawasan Alun-Alun. Selama ini, arah suara pengeras dinilai kurang efektif karena mengarah keluar area Alun-Alun, sehingga pengumuman sulit terdengar oleh orang tua di dalam kawasan.

“Kami sedang mengatur ulang agar sound system diarahkan ke area playground. Dengan begitu, informasi anak terpisah bisa langsung terdengar oleh orang tua yang berada di sekitar lokasi,” jelas Raymond.

Selain perbaikan teknis, DLH Kota Malang juga terus berkoordinasi dengan Satpol PP untuk meningkatkan pengawasan dan penanganan kasus anak terpisah, terutama pada hari libur dan akhir pekan.

Raymond kembali menegaskan pentingnya peran orang tua dalam menjaga keselamatan anak di ruang publik.

“Kami sangat berharap orang tua tidak meninggalkan anaknya di Alun-Alun. Tempat ini bukan penitipan anak. Keselamatan anak sepenuhnya tanggung jawab orang tua,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *