Sudutkota.id – Angkat beban penyakit menular di Kota Malang, khususnya HIV, masih tergolong tinggi. Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang menegaskan komitmennya menjaga akses dan kualitas layanan kesehatan masyarakat, di tengah kebijakan efisiensi anggaran.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengatakan bahwa efisiensi anggaran tidak boleh berdampak pada melemahnya pelayanan dasar yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
“Layanan kesehatan harus tetap berjalan optimal. Karena itu kami menyiapkan fasilitas kesehatan yang bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat,” ujar dr. Husnul saat dikonfirmasi Sudutkota.id, Senin (26/2/2026).
Ia menjelaskan, warga Kota Malang dapat memanfaatkan layanan di 16 puskesmas yang tersebar di seluruh wilayah kota, serta rumah sakit rujukan, untuk melakukan konsultasi kesehatan, pemeriksaan, hingga deteksi dini, termasuk untuk penyakit menular seperti HIV.
“Warga Kota Malang bisa datang ke 16 puskesmas atau rumah sakit untuk konsultasi sekaligus pemeriksaan dan deteksi dini. Akses ini kami jaga agar tetap mudah dan terjangkau,” jelasnya.
Selain memperkuat akses layanan, Dinkes Kota Malang juga fokus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di sektor kesehatan. Pembaruan kompetensi tenaga kesehatan dilakukan secara berkelanjutan, baik dari sisi keterampilan teknis maupun penguatan keilmuan.
“Tenaga kesehatan terus kami update, baik skill maupun ilmunya, agar pelayanan yang diberikan sesuai standar dan kebutuhan masyarakat,” tambahnya.
Dari sisi penganggaran, dr. Husnul memastikan Dinkes menyiapkan anggaran berdasarkan kebutuhan riil fasilitas kesehatan, khususnya puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan dasar.
“Kami menyesuaikan anggaran dengan kebutuhan faskes, terutama puskesmas, agar pelayanan dasar tidak terganggu,” tegasnya.
Terkait penanganan HIV, Dinkes Kota Malang mencatat sepanjang tahun 2025 ditemukan 477 kasus HIV baru dari sekitar 23.000 warga yang menjalani pemeriksaan. Data tersebut menunjukkan bahwa skrining dan penemuan kasus masih berjalan aktif.
“Penemuan kasus ini justru penting, karena dengan deteksi dini pasien bisa segera mendapatkan pengobatan dan risiko penularan dapat ditekan,” ungkapnya.
Dinkes juga menegaskan komitmen untuk terus memperkuat program promotif dan preventif, mulai dari edukasi kesehatan, skrining rutin, hingga pengobatan berkelanjutan bagi pasien HIV.
Di tengah tekanan efisiensi anggaran, Dinkes Kota Malang berharap sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan tetap terjaga agar layanan kesehatan tidak melemah dan masyarakat tetap merasa aman dalam mengakses layanan medis.
“Efisiensi boleh dilakukan, tetapi keselamatan dan kesehatan warga harus tetap menjadi prioritas utama,” pungkas dr. Husnul.






















