Sudutkota.id – Persoalan pernikahan dini, kesehatan ibu-anak, hingga kerentanan sosial di wilayah pesisir Malang Selatan kini mulai disentuh melalui pendekatan baru berbasis kesehatan masyarakat.
Sahabat Alam Indonesia menggandeng Universitas Kepanjen untuk melakukan intervensi langsung di kawasan pesisir, dimulai dari Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan.
Wilayah Sendang Biru dipilih sebagai lokasi awal karena dinilai memiliki tingkat kerentanan sosial yang tinggi, terutama pada keluarga nelayan dan petani.
Akses informasi digital yang tidak terfilter, pola pergaulan bebas, serta lemahnya literasi kesehatan menjadi faktor yang mendorong maraknya pernikahan dini, pernikahan siri, hingga penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja, khususnya generasi Z dan Alpha.
Berbeda dari pola sosialisasi konvensional, kegiatan kolaboratif ini dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan warga secara langsung.
Dari proses tersebut, tim relawan dan mahasiswa melakukan pemetaan persoalan sosial yang berkembang di masyarakat, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, kesehatan ibu dan balita, hingga kondisi lansia.
Rektor Universitas Kepanjen, Dr. Tri Nurhudi Sasono, S.Kep., Ns., M.Kep, menegaskan bahwa keterlibatan mahasiswa bukan sekadar kegiatan pengabdian, melainkan bagian dari pembelajaran berbasis realitas sosial.
“Mahasiswa kami ditugaskan melalui keperawatan komunitas untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Mereka belajar mengedukasi, mencegah, sekaligus mengurai masalah kesehatan dan kerentanan sosial yang terjadi di lapangan,” ujarnya, Jumat (23/1/2026).
Keterlibatan mahasiswa sebagai relawan Sahabat Alam Indonesia mendapat respons positif dari warga. Selain membantu pemeriksaan kesehatan, mahasiswa juga melakukan survei sosial, pendekatan keluarga, hingga edukasi terkait risiko pernikahan dini, kesehatan reproduksi, serta bahaya narkoba.
Founder Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin, menilai sinergi antara akademisi dan organisasi masyarakat sipil menjadi kunci dalam menghadapi perubahan sosial yang semakin kompleks.
“Implementasi teori kampus harus bertemu dengan kondisi riil di lapangan. Pencegahan pernikahan dini dan penguatan ketahanan kesehatan warga bukan hal tabu. Justru ini langkah penting untuk mengurai persoalan desa-desa pesisir yang selama ini dianggap rentan,” tegasnya.
Program ini, lanjutnya, dirancang berkelanjutan dan akan diperluas ke wilayah lain di Malang Selatan.
Harapannya, pendekatan berbasis kesehatan dan edukasi partisipatif ini mampu menjadi model perlindungan remaja dan keluarga nelayan dari risiko sosial yang berdampak panjang, baik secara kesehatan, ekonomi, maupun administrasi kependudukan,” pungkas Andik.






















