Sudutkota.id – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menegaskan bahwa Pemerintah Kota Malang seharusnya sudah menyiapkan berbagai alternatif solusi terkait penghijauan di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta (Soehat), khususnya pasca pembangunan gorong-gorong yang menutup hampir seluruh ruang tanah.
“Saya kira pemerintah kota mestinya punya banyak alternatif. Kalau memang anggarannya besar, itu seharusnya sudah dipikirkan solusinya sejak awal. Apakah memungkinkan ditanam langsung di bawah sepanjang pedestrian, atau memang satu-satunya pilihan menggunakan pot. Kalau memang sudah tertutup beton, ya mau tidak mau solusinya pot. Mahal atau tidak, itu tetap harus dilaksanakan,” tegas Amithya, Jumat (23/1/2026).
Menurut Amithya, keterbatasan anggaran tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan upaya penghijauan. Ia menilai, skema pelaksanaan bisa disesuaikan dengan kemampuan fiskal daerah secara bertahap.
“Kalau mahal, ya dicicil. Namanya kemampuan anggaran itu bisa dihitung. Tahun ini sanggup berapa, nanti ditambahkan lagi, ditambahkan lagi. Yang penting tujuannya satu, penghijauan. Kalau dilakukan secara kontinyu, saya kira itu bisa terpenuhi,” ujarnya.
Amithya menegaskan, keberadaan pohon di kawasan perkotaan bukan sekadar estetika, melainkan kebutuhan ekologis yang vital bagi Kota Malang.
“Ini bukan soal proyek, tapi kebutuhan kota. Pohon itu paru-paru Kota Malang. Jangan karena alasan anggaran lalu dipangkas begitu saja. Itu justru keliru,” katanya.
Terkait kewenangan proyek gorong-gorong yang berada di bawah Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Amithya menilai hal tersebut tidak boleh membuat Pemkot Malang bersikap pasif.
“Nanti tentu kami akan berkoordinasi dengan provinsi. Tapi Kota Malang tidak bisa hanya mengandalkan itu. Harus bergerak sendiri, mencari solusi sendiri. Saya juga akan menyampaikan lagi ke Pak Wali Kota dan jajarannya soal ini,” tambahnya.
Pernyataan Amithya tersebut muncul di tengah sorotan publik atas belum terealisasinya janji Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, untuk menanam kembali pohon-pohon yang ditebang di Jalan Soekarno-Hatta akibat proyek pembangunan gorong-gorong.
Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengakui hingga kini konsep penanaman ulang pohon belum diputuskan, meskipun proyek fisik gorong-gorong telah dinyatakan selesai.
Plh Kepala DLH Kota Malang, Raymond Matondang, menyebut kendala utama terletak pada minimnya ruang tanam karena area proyek didominasi beton.
“Kalau mau ditanami pohon, harus ada ruang tanah yang tidak terganggu beton. Idealnya sekitar 40 sentimeter. Kalau ruang itu tidak ada, pohon tidak akan tumbuh rindang,” ujar Raymond.
Pantauan Sudutkota.id di lokasi menunjukkan hampir seluruh area di sepanjang pedestrian Soehat telah tertutup beton gorong-gorong, tanpa menyisakan ruang tanah terbuka. Kondisi ini bertolak belakang dengan narasi awal revitalisasi yang menjanjikan ruang publik lebih hijau dan nyaman.
Raymond mengatakan, dalam rapat koordinasi antara Pemkot Malang dan Pemprov Jawa Timur, DLH sempat mengusulkan penanaman pohon. Namun usulan tersebut terbentur desain proyek yang sudah final.
“Kalau tidak ada perubahan desain, ruang tanam pohon sangat terbatas. Yang memungkinkan hanya di depan Polinema, itu pun masih menunggu hasil rapat lanjutan,” katanya.
Sebagai alternatif, Pemkot Malang kini mempertimbangkan penggunaan pot besar yang ditanami pohon hias di sepanjang pedestrian. Namun hingga saat ini, opsi tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum memiliki kepastian pelaksanaan.






















