Daerah

Ubinan Padi Inpari 32 di Merjosari Tembus 9 Ton per Hektare, Dispangtan Kota Malang Tegaskan Potensi Pertanian Perkotaan

35
×

Ubinan Padi Inpari 32 di Merjosari Tembus 9 Ton per Hektare, Dispangtan Kota Malang Tegaskan Potensi Pertanian Perkotaan

Share this article
Ubinan Padi Inpari 32 di Merjosari Tembus 9 Ton per Hektare, Dispangtan Kota Malang Tegaskan Potensi Pertanian Perkotaan
Petani bersama penyuluh pertanian Kota Malang melakukan kegiatan ubinan padi varietas Inpari 32 di lahan sawah Kelompok Tani Tani Utomo, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru.(foto:sudutkota.id/ist.)

Sudutkota.id – Sektor pertanian di Kota Malang kembali menunjukkan capaian positif di tengah keterbatasan lahan. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mencatat hasil ubinan padi dengan produktivitas tinggi di Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru.

Kepala Dispangtan Kota Malang, Drs. Slamet Husnan Hariyadi, mengatakan saat dikonfirmasi wartawan Sudutkota.id, Kamis (22/1/2026), bahwa kegiatan ubinan tersebut dilaksanakan sehari sebelumnya, Rabu (21/1/2026), oleh Penyuluh Pertanian Kota Malang bersama Bidang Pertanian Dispangtan.

Ubinan dilakukan pada lahan sawah seluas 0,7 hektare yang dikelola oleh Mas Aditya Jayanto, anggota Kelompok Tani (Poktan) Tani Utomo, Kelurahan Merjosari. Varietas padi yang digunakan adalah Inpari 32, yang berasal dari benih bantuan pemerintah, sebagai bagian dari program peningkatan produksi dan ketahanan pangan.

“Tanaman padi dipanen pada umur 115 Hari Setelah Tanam (HST). Dari hasil pengukuran ubinan diperoleh bobot gabah 6,92 kilogram, yang jika dikonversikan menunjukkan estimasi produktivitas sekitar 9 ton per hektare,” jelas Slamet.

Menurutnya, capaian tersebut tergolong sangat baik untuk wilayah perkotaan seperti Kota Malang, sekaligus menjadi indikator bahwa pertanian kota masih memiliki prospek besar apabila dikelola dengan baik dan mendapat pendampingan intensif dari pemerintah.

Slamet menegaskan, keberhasilan ini tidak terlepas dari peran aktif penyuluh pertanian yang terus mendampingi petani mulai dari pengolahan lahan, penggunaan benih unggul, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman.

Namun demikian, ia mengakui bahwa tantangan di lapangan tetap ada. Pada musim tanam kali ini, hama utama yang menyerang tanaman padi adalah burung emprit, terutama menjelang masa panen. Serangan hama tersebut berpotensi menurunkan hasil apabila tidak diantisipasi secara optimal.

“Kami mendorong petani untuk menerapkan pengendalian hama terpadu, termasuk pemasangan alat pengusir burung dan pengawasan rutin di masa kritis tanaman. Penyuluh akan terus melakukan pendampingan agar hasil panen bisa dipertahankan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Slamet berharap hasil ubinan ini dapat menjadi contoh dan motivasi bagi kelompok tani lain di Kota Malang untuk terus meningkatkan produktivitas. Ia juga menegaskan komitmen Dispangtan dalam menjaga keberlanjutan pertanian di tengah tekanan alih fungsi lahan.

“Pertanian perkotaan harus terus kita jaga. Ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga soal ketahanan pangan dan kemandirian daerah,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *