Daerah

Ground Breaking APATEL Luminor Malang dan Dinoyo Oasis Apartement Dimulai, Wali Kota Sebut Malang Siap Melompat Jadi Kota Metropolitan

94
×

Ground Breaking APATEL Luminor Malang dan Dinoyo Oasis Apartement Dimulai, Wali Kota Sebut Malang Siap Melompat Jadi Kota Metropolitan

Share this article
Ground Breaking APATEL Luminor Malang dan Dinoyo Oasis Apartement Dimulai, Wali Kota Sebut Malang Siap Melompat Jadi Kota Metropolitan
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat bersama sejumlah pejabat sipil dan unsur TNI saat melakukan prosesi simbolis peletakan tangan pada layar sebagai tanda dimulainya Ground Breaking APATEL Luminor Malang dan Dinoyo Oasis Apartement, di kawasan MT Haryono, Dinoyo, Kota Malang.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Proyek hunian dan perhotelan APATEL (Apartment & Hotel) Luminor Malang serta Dinoyo Oasis Apartement resmi memulai pembangunan lewat seremoni ground breaking di kawasan MT Haryono Gg XIX, Dinoyo, Lowokwaru, Jumat siang (11/12/2025)

Acara ini dihadiri Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, jajaran TNI-Polri, akademisi, tokoh masyarakat, serta manajemen PT Graha Cakra Mas Abadi sebagai pengembang. Proyek ini digadang menjadi salah satu investasi besar di kawasan pendidikan Kota Malang yang pertumbuhannya kian padat dan kompleks

Dalam sambutannya, Wali Kota Wahyu Hidayat menegaskan bahwa pembangunan proyek bertingkat di tengah permukiman padat ini menjadi bukti Kota Malang kian menjadi magnet investasi.

“Kehadiran proyek ini menandakan kepercayaan investor bahwa Malang memiliki iklim yang aman, prospektif, dan selalu bertumbuh,” tegas Wahyu.

Wahyu juga mengungkapkan bahwa Kota Malang tengah diarahkan pemerintah pusat untuk naik status menjadi kota metropolitan pada 2026, sebuah klaim yang menunjukkan bahwa beban perkotaan sudah melampaui batas kota besar biasa.

“Penduduk kita hampir 900 ribu, mahasiswa lebih dari 800 ribu. Aktivitas kota ini sudah setara kota berpenghuni lebih dari 1,5 juta. Karena itu Kementerian PUPR mengusulkan Malang masuk kategori metropolitan,” jelasnya.

Namun, Wahyu turut mengkritisi problem klasik kota besar yang masih membayangi yakni, banjir, kemacetan, dan infrastruktur perkotaan yang belum seimbang. Ia menilai, masuknya investasi skala besar harus sejalan dengan pembenahan tata ruang kota.

“Tantangan ini tidak mudah. Tapi proyek seperti ini sekaligus menjadi indikator bahwa kita siap bergerak sebagai kota metropolitan yang modern dan berdaya saing,” ujarnya.

Proyek APATEL berada di kawasan ring kampus, titik termacet dan terpadat di Kota Malang. Penempatan apartemen–hotel di area tersebut menuntut pengembangan tata ruang yang lebih hati-hati.

Wahyu menyebut bahwa Pemkot Malang memberikan kemudahan perizinan kepada investor, namun mengingatkan bahwa setiap investasi wajib memenuhi standar keamanan lingkungan dan mencegah munculnya masalah baru di kawasan padat.

“Kemudahan perizinan bukan berarti tanpa kontrol. Semua harus sesuai kebutuhan kota dan masyarakat,” tegasnya.

Direktur Utama PT Graha Cakra Mas Abadi, Raden Ridho Widyananto, memaparkan bahwa proyek ini menghadirkan total sekitar 800 unit, terdiri dari 150 kamar hotel dan sekitar 650 unit apartemen.

“Fasilitas kami setara bintang lima. Kami menyasar mahasiswa, pekerja profesional, dan wisatawan yang butuh hunian premium namun tetap terjangkau,” ungkap Ridho.

Menanggapi pertanyaan soal persaingan dengan apartemen lain dan isu banjir yang kerap menghantui kawasan tertentu Kota Malang, Ridho memastikan struktur dan drainase proyek telah melalui kajian teknis.

“Kami optimis. Kajian teknis sudah kami lakukan, dan proyek dibangun dengan standar keamanan modern,” tambahnya.

Ridho menyebut pembangunan dimulai pertengahan tahun depan dengan target rampung 1,5 tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *