Peristiwa

Tembok Penahan Jembatan Brantas Malang Longsor, Dua Rumah Kampung Tridi Tertimpa Material

189
×

Tembok Penahan Jembatan Brantas Malang Longsor, Dua Rumah Kampung Tridi Tertimpa Material

Share this article
Plesengan Jembatan Brantas di atas Kampung Tridi, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang longsor. (Foto: Sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Hujan lebat yang mengguyur kawasan Malang Raya sejak siang hingga malam menyebabkan tembok penahan (plesengan) Jembatan Brantas mengalami longsor, Minggu (23/11/2025). Peristiwa terjadi sekitar pukul 18.00 WIB usai magrib dan memicu kepanikan warga Kampung Tridi, Kelurahan Kesatrian, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Material longsor sepanjang kurang lebih 15 meter dengan kemiringan tebing sekitar 20 meter ambrol dan langsung menimpa atap dua rumah warga di RT 1 RW 12. Hantaman material membuat bagian atap rumah jebol, namun beruntung tidak menimbulkan korban jiwa.

Riyan, pemilik salah satu rumah yang tertimpa, menjelaskan bahwa saat kejadian keluarganya sedang berada di lantai bawah.

“Kejadiannya habis magrib. Tiba-tiba terdengar bunyi gruk-gruk gitu, terus makin keras,” ujar Riyan.

“Beberapa detik kemudian langsung ambrol. Yang kena itu kamar atas. Untung kami semua posisi di bawah, jadi bisa langsung lari keluar.”imbuhnya.

Saat keluar rumah, Riyan melihat material tanah, batu, dan sebagian beton plesengan sudah menutupi atap rumahnya.

Ia menduga air hujan dari jalur atas jembatan mengalir deras ke satu titik karena saluran air tidak berfungsi.

“Kayaknya air dari atas ngumpul di satu titik. Dua minggu lalu ada pekerjaan proyek di atas rumah saya, mungkin itu juga bikin aliran air berubah,” jelasnya.

“Warga di sini sebenarnya sudah khawatir sejak lama. Di atas sering ada kerjaan proyek, tapi saluran airnya nggak dibuka dengan benar.”sambung Riyan.

Anggota DPRD Kota Malang dari Partai Gerindra, Ginanjar Yoni Wardoyo, langsung meninjau lokasi begitu mendengar laporan. Ia menyatakan bahwa kejadian ini bukan tanpa gejala sebelumnya.

“Beberapa waktu terakhir memang sudah ada tanda-tanda. Saluran air di wilayah RW 12 banyak yang buntu. Lalu pengaspalan di jalur atas menutup drainase yang seharusnya mengalirkan air,” ujarnya.

Menurut Ginanjar, air hujan yang tidak tertampung akhirnya turun deras ke tebing di bawah jembatan dan mempercepat erosi.

“Ini daerah curam dan padat penduduk. Kalau saluran pembuangan tertutup, ya jadinya seperti ini: air melimpas, tanah jenuh, lalu longsor,” jelasnya.

Ia menekankan perlunya evaluasi serius pada proyek-proyek di daerah atas jembatan, termasuk pekerjaan yang dilakukan dua minggu terakhir.

Apresiasi untuk Penanganan Cepat, Tapi Dinas Harus Bergerak Lanjut

Ginanjar mengapresiasi respons cepat BPBD, relawan, dan warga yang langsung gotong royong membersihkan material longsor.

“BPBD sudah cepat melakukan evakuasi dan pembersihan. Relawan juga sigap. Tapi setelah ini, dinas terkait harus turun untuk bantuan lanjutan,” tegasnya.

Ia menyebut kebutuhan mendesak warga terdampak meliputi: Perbaikan atap dan material bangunan,
Kasur dan perabot yang rusak, Bantuan sembako dari Dinsos. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan karena anak-anak terdampak mungkin kesulitan berangkat sekolah

Ia juga menegaskan bahwa meskipun Jembatan Brantas berada dalam kewenangan provinsi, pemerintah kota tetap harus mengambil langkah darurat untuk menghindari bahaya susulan.

“Ini tidak ada korban jiwa, Alhamdulillah. Tapi rusaknya rumah tetap tanggung jawab pemerintah untuk segera menindaklanjuti,” katanya.

Hingga malam, BPBD dan warga masih memantau kondisi plengsengan untuk mengantisipasi longsor susulan, mengingat hujan diprediksi masih berlanjut. Lumpur dan pecahan beton yang menimpa atap rumah masih dalam proses pembersihan.

Meski situasi telah terkendali, warga berharap pemerintah segera memperbaiki struktur penahan jembatan dan membuka kembali saluran air yang tersumbat agar peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *