Daerah

Stok Beras di Kota Malang Diprediksi Melimpah pada Akhir 2025

118
×

Stok Beras di Kota Malang Diprediksi Melimpah pada Akhir 2025

Share this article
Stok Beras di Kota Malang Diprediksi Melimpah pada Akhir 2025
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Malang, Slamet Husnan, saat meninjau kandang ayam petelur milik peternak lokal.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Menjelang akhir tahun 2025, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dispangtan) Kota Malang optimistis stok beras akan kembali melimpah. Pasokan beras diperkirakan mulai meningkat pada Oktober, dengan puncak panen raya berlangsung di bulan November.

Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan saat ini pasokan beras di Kota Malang memang cenderung menurun seiring berakhirnya masa panen di tingkat petani. Kondisi tersebut juga berdampak pada kenaikan harga gabah.

“Sekarang pasokan turun karena panen sudah selesai. Tapi mulai Oktober sebagian petani sudah panen lagi, dan puncaknya di November. Akhir tahun nanti stok diperkirakan terisi kembali,” ujarnya di Balai Kota Malang, Minggu (21/9/2025)

Seiring turunnya pasokan, harga gabah di tingkat petani terus merangkak naik. Data Dispangtan mencatat harga gabah kini menyentuh Rp7.200 per kilogram, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.

Namun Slamet menilai kenaikan harga ini justru memberi dampak positif bagi petani. Dengan harga yang lebih tinggi, petani mendapatkan keuntungan lebih besar setelah berbulan-bulan merawat dan mengolah sawah.

“Kalau harga gabah naik, itu wajar. Justru ini menjadi kabar baik untuk petani karena mereka mendapat hasil lebih sesuai dengan jerih payahnya,” jelas Slamet.

Meski stok diperkirakan naik saat panen raya, Slamet menegaskan bahwa produksi gabah di Kota Malang belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan warga. Hingga akhir tahun 2025, produksi gabah lokal diperkirakan mencapai 15 ribu ton. Angka ini masih jauh dari total kebutuhan beras masyarakat Kota Malang yang mencapai sekitar 45 ribu ton per tahun.

“Kota Malang bukan daerah produsen padi. Jadi memang wajar kalau kebutuhan beras tidak bisa dipenuhi hanya dari hasil panen lokal,” terangnya.

Untuk menutup kekurangan pasokan, Pemkot Malang menjalin kerja sama dengan daerah penghasil padi di sekitarnya, seperti Kabupaten Malang, Blitar, dan Kediri. Selain itu, Bulog juga berperan penting dalam menjaga ketersediaan beras dengan melakukan distribusi sesuai kebutuhan pasar.

“Kami juga mendapat dukungan dari Bulog. Jika stok di pasaran berkurang, Bulog siap menyalurkan cadangan beras pemerintah. Tujuannya agar harga tetap stabil dan masyarakat tidak panik,” tambah Slamet.

Di sisi lain, kenaikan harga gabah membuat sebagian pedagang dan konsumen mulai merasakan dampaknya. Sejumlah pedagang beras di Pasar Besar Malang mengaku harga eceran beras kualitas medium naik sekitar Rp500–Rp700 per kilogram dibanding bulan lalu.

“Kalau gabah naik, otomatis harga beras ikut terdorong. Tapi untuk sekarang stok masih ada, jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” ujar Siti, salah satu pedagang beras di Pasar Besar.

Slamet pun menegaskan bahwa masyarakat Kota Malang tidak perlu resah menghadapi dinamika harga ini. Ia memastikan pemerintah bersama Bulog akan terus memantau perkembangan harga sekaligus menjamin stok beras tetap aman hingga akhir tahun.

“Beras adalah kebutuhan pokok, jadi kami prioritaskan pengamanannya. Kami optimistis stok aman sampai akhir tahun,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *