Sudutkota.id – Arus mudik menjelang Hari Raya Idulfitri seharusnya menjadi momentum positif bagi daerah untuk menampilkan wajah terbaiknya. Namun, kondisi berbeda justru terlihat di pintu masuk wilayah timur Kabupaten Sampang.
Tumpukan sampah yang berserakan di sepanjang akses jalan utama memicu sorotan publik, terutama dari para pemudik yang melintas.
Pantauan di lapangan menunjukkan berbagai jenis limbah, mulai dari sampah rumah tangga hingga material lain, menumpuk tanpa pengelolaan optimal. Selain merusak estetika kawasan, bau menyengat yang ditimbulkan turut mengganggu kenyamanan pengguna jalan.
Situasi ini dinilai kontras dengan fungsi gerbang daerah sebagai ikon penyambutan bagi pengunjung. Alih-alih memberikan kesan positif, kondisi tersebut justru memunculkan persepsi negatif terhadap tata kelola kebersihan di wilayah tersebut.
Sejumlah pengendara mengaku kecewa dengan pemandangan yang mereka temui. Salah satu pemudik menyebut bahwa kondisi pintu masuk suatu daerah kerap menjadi tolok ukur pertama dalam menilai kualitas lingkungan dan pelayanan publiknya.
“Jika di pintu masuknya saja sudah disuguhi pemandangan seperti ini, maka orang akan mempunyai persepsi yang kurang baik dan menciptakan citra negatif terhadap kebersihan dan pengelolaan lingkungan daerah,” tuturnya.
Keluhan serupa juga datang dari warga sekitar. Mereka mengaku telah lama menghadapi persoalan tersebut tanpa solusi yang konsisten. Upaya penanganan sementara seperti pembakaran sampah dinilai tidak efektif karena tidak menghilangkan sumber masalah.
“Kami sudah terbiasa dengan kondisi ini mas, kadang dibakar tapi tidak dibersihkan. Jadi tumpukan dan baunya masih ada” ujar Madon, warga sekitar.
Selain berdampak pada keindahan lingkungan, kondisi ini juga menimbulkan kekhawatiran dari sisi kesehatan. Tumpukan sampah yang dibiarkan berpotensi menjadi sarang penyakit, terlebih saat musim hujan.
Sementara Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sampang, Faisol Ansori mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan dengan mengurangi sampah, memakai kembali dan mendaur ulang sehingga sampah residu semakin sedikit dan mengurangi beban TPA.
“Iya Mas, nanti kami tindaklanjuti dan akan kami lakukan pengangkutan secara berkala. Juga kita akan berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan desa, kalau memungkinkan kami akan cari lokasi baru,” kata Faisol, Rabu (18/3/2026).





















