Sudutkota.id – Pemilik Mitra Mandiri Sentra Pangan dan Gizi (SPPG), Yoga Priyo Sudarmo, memaparkan perkembangan layanan penyediaan pangan bergizi di Kota Malang. Saat ini, jumlah penerima manfaat yang terlayani mencapai 2.874 orang, sementara kapasitas maksimal dapat menjangkau hingga 3.500 orang, meliputi ibu hamil serta anak-anak sekolah dasar (SD) dan taman kanak-kanak (TK).
“Jumlah penerima manfaat sekarang masih 2.874. Padahal kuotanya bisa sampai 3.500, termasuk ibu hamil dan anak-anak sekolah. Kalau dari total keseluruhan bantuan bisa mencapai 4.000. Kami ini posisinya hanya sebagai mitra kerja. Yang bertanggung jawab ada di SPPG bersama tim akuntan,” jelas Yoga, Sabtu (28/9/2025).
Menurut Yoga, kuota maksimal belum tercapai karena ada beberapa sekolah yang menolak menerima program bantuan tersebut. Meski demikian, sejumlah sekolah sudah rutin menjadi penerima, termasuk TK Al Azhar serta beberapa SD di kawasan Buring dan sekitarnya.
Untuk menjalankan layanan, Mitra Mandiri SPPG mempekerjakan 47 orang karyawan. Mereka terdiri dari tenaga masak, logistik, administrasi, hingga tenaga ahli gizi dan akuntan yang bertugas memastikan proses produksi berjalan sesuai standar kesehatan.
“Pekerja kami ada 47 orang, dengan tugas masing-masing. Mulai dari dapur, penyimpanan, distribusi, sampai tenaga ahli gizi dan akuntan. Semua proses harus sesuai standar karena makanan ini untuk anak-anak sekolah dan ibu hamil,” kata Yoga.
Ia menegaskan, distribusi makanan dilakukan dalam waktu singkat agar kualitas tetap terjaga. Ketepatan waktu menjadi faktor penting karena makanan diproduksi dalam jumlah besar setiap hari dan harus segera sampai ke sekolah-sekolah penerima.
Menanggapi isu dugaan keracunan makanan yang sempat muncul, Yoga meminta agar persoalan tersebut ditangani dengan penelitian yang objektif. Menurutnya, banyak faktor yang dapat memengaruhi kualitas makanan, sehingga penyebabnya tidak bisa diputuskan sepihak.
“Kalau ada isu keracunan, itu tidak bisa ditentukan sepihak. Faktor penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari bahan baku, penyimpanan, suhu ruangan, hingga distribusi. Harus ada tim independen yang meneliti agar jelas masalahnya,” tegasnya.
Selain fokus pada layanan gizi, Mitra Mandiri SPPG juga menghadapi tantangan pengelolaan limbah. Sejak awal beroperasi, pihaknya sudah menawarkan kerja sama terkait pengangkutan sampah organik maupun plastik, namun respon masih minim.
“Awalnya kami tawarkan kerja sama untuk pengangkutan sampah, tapi belum ada yang menanggapi. Akhirnya kami koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, supaya sampah bisa diambil setiap hari agar tidak menimbulkan bau,” katanya.
Menurutnya, pengelolaan limbah menjadi hal yang tak kalah penting dibanding produksi makanan. Ia berharap ke depan ada sinergi lebih baik dengan instansi terkait agar sistem pengelolaan pangan hingga limbah bisa lebih terpadu.
Yoga optimistis, dengan dukungan semua pihak, Mitra Mandiri SPPG bisa memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat Kota Malang. Program ini bukan sekadar menyalurkan makanan sehat, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.
“Harapan kami, semua pihak bisa bersinergi. Program SPPG ini bukan hanya soal menyediakan makanan sehat, tapi juga menjaga kualitas lingkungan. Kalau semua terkoordinasi, manfaatnya akan jauh lebih besar bagi masyarakat,” pungkasnya.





















