Sudutkota.id – Terasa tanpa sekat dan jarak, ngantor hari pertama setelah libur hari raya, dimanfaatkan Bupati Jember, Muhammad Fawait bertemu langsung dengan Ribuan warga di pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (25/3/2026).
Acara ini sekaligus dalam rangkaian kegiatan Pemkab Jember dalam acara kupatan guna memperkuat nilai spiritual dan sosial di tengah masyarakat.
Tentu saja kegiatan ini diapresiasi warga, seperti diungkapkan Agung, salah satu warga yang hadir saat kupatan.
Dirinya menyampaikan apresiasi kepada Bupati Fawait atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan warga secara langsung dalam acara kupatan menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan antarwarga sekaligus dengan pemerintah daerah.
“Kami sangat berterima kasih atas adanya kegiatan ini, sehingga rakyat bisa masuk pendopo. Warga merasa diperhatikan dan dilibatkan dalam kegiatan yang penuh kebersamaan. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan ke depannya,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Jember, Muhammad Fawait menyampaikan, pelaksanaan kupatan tahun ini menjadi pilihan utama pemerintah dalam merayakan Idul Fitri, seiring dengan tidak diselenggarakannya kegiatan open house. Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk kepatuhan terhadap arahan pemerintah pusat.
“Kami tidak mengadakan open house tahun ini karena mengikuti anjuran dari pemerintah pusat. Namun hal ini tidak mengurangi makna Idul Fitri, justru kita kuatkan melalui tradisi kupatan yang lebih membumi dan penuh makna,” ujarnya.
Tentu saja, meski dilakukan dalam kesederhanaan, momentum kupatan tersebut benar-benar dimanfaatkan warga sekitar pendopo untuk bertemu langsung dengan Bupati Fawait. Masyarakat juga bisa langsung menyampaikan aspirasinya kepada Bupati Fawait, tanpa ada sekat.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Fawait juga menyampaikan berbagai program yang telah dilakukan dan bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat. Seperti layanan berobat gratis bagai warga ber KTP Jember hingga persoalan layanan kependudukan yang tidak lagi ribet karena sudah bisa dilayani di tingkat kecamatan.
Bupati Fawait menjelaskan, tradisi kupatan kali ini sekaligus dalam rangka melestarikan warisan budaya bangsa. Bupati Fawait juga berharap antara pemimpin, pejabat, dan rakyat, jangan ada sekat. Ini juga terlihat saat acara kupatan, antara pejabat dan masyarakat bisa membaur.
Dijelaskan, tradisi tersebut bukan hanya soal budaya, tetapi juga bagian dari upaya mempererat persaudaraan dan merawat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.
Pihaknya juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan momentum Idul Fitri sebagai waktu terbaik untuk saling mendoakan. Ia berharap doa-doa yang dipanjatkan dalam kondisi hati yang bersih dapat membawa kebaikan bagi bangsa dan daerah.
“Dengan menjaga tradisi ini, kita tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga mengingat jasa para leluhur serta memohonkan doa terbaik untuk mereka,” imbuhnya.
Bupati Fawait menegaskan bahwa ibadah puasa Ramadan yang telah dijalani selama 30 hari merupakan sarana penyucian diri dari dosa kepada Allah SWT. Namun demikian, hubungan antarsesama manusia harus disempurnakan melalui saling memaafkan, yang menjadi inti dari tradisi kupatan dan silaturahmi.
“Puasa Ramadan menghapus dosa kepada Allah, tetapi dosa kepada sesama hanya bisa diselesaikan dengan saling memaafkan. Tradisi kupatan inilah yang menjadi ruang untuk itu,” jelasnya.





















