Sudutkota.id – Di antara gemerlap lampu dan semarak mural sejarah, kawasan Kayutangan Heritage tak hanya menyimpan jejak arsitektur kolonial. Di sepanjang trotoarnya, berdiri toko-toko legendaris yang menjadi saksi bisu denyut ekonomi Kota Malang, dari masa kolonial hingga era digital seperti saat ini.
Sejak awal abad ke-20, kawasan Kayutangan dikenal sebagai pusat niaga dan ruang gaya hidup kalangan menengah atas. Di masa Hindia Belanda, toko-toko di sini menjual barang-barang mewah seperti jam tangan, tekstil impor, hingga perlengkapan rumah tangga dari Eropa.
Saat itu, toko-toko ini juga menjadi titik pertemuan masyarakat urban Malang, baik dari kalangan bumiputera, Eropa, maupun Tionghoa.
Kini, meski fungsinya bergeser, sejumlah toko masih mempertahankan nama dan nuansa lamanya.
Salah satu yang paling ikonik adalah Toko Oen, berdiri sejak tahun 1930-an. Gedung bergaya art deco ini masih menyajikan es krim dan menu Belanda klasik seperti bistik lidah, nasi goreng spesial, dan poffertjes. Meski suasananya terasa antik, Toko Oen tetap menarik minat generasi muda yang penasaran mencicipi “rasa tempo doeloe”.
Di seberangnya, berdiri Toko Riyana, yang dulunya dikenal sebagai toko alat tulis dan perlengkapan kantor sejak era 1970-an.
Kini toko ini bertransformasi menjadi ritel multiguna yang menjual kebutuhan sehari-hari dan suvenir khas Malang, tapi tetap mempertahankan papan nama klasik beraksen kayu gelap yang menjadi ciri khasnya.
Tak jauh dari situ, terdapat Duta Parfum, salah satu pionir toko parfum isi ulang yang populer pada era 1980-an. Kini telah berkembang menjadi New Duta Parfum, toko ini tetap mempertahankan basis pelanggannya sembari menyesuaikan desain interior dan layanannya agar lebih milenial-friendly. Di depannya, terlihat barisan motor ojek online mengantre mengambil pesanan dari pelanggan digital.
“Sejak saya kecil, kawasan ini selalu hidup. Dulu banyak toko kelontong dan alat tulis. Sekarang banyak kedai kopi dan tempat nongkrong anak muda,” kata Junaedi, warga asli Jalan Gereja, Kelurahan Kiduldalem, Kecamatan Klojen, yang kini membuka Warung Kopi Merdeka di sisi barat pertokoan tersebut.
Penataan besar-besaran kawasan ini dimulai pada 2021. Pemerintah Kota Malang menggandeng pelaku sejarah, komunitas heritage, dan arsitek untuk menghidupkan kembali citra klasik Kayutangan.
Trotoar diperlebar, lampu-lampu jalan diganti dengan model klasik, dan elemen artistik ditambahkan di sejumlah titik.
Bangunan-bangunan lama direstorasi fasadnya. Jendela-jendela tua dicat ulang, papan nama toko-toko lama tetap dipertahankan, dan sejumlah ruang diubah menjadi co-working space, studio kreatif, hingga galeri seni yang menyatu dengan suasana pejalan kaki.
Tepat di depan Taman Patung Chairil Anwar, muncul toko dan kafe baru seperti Coffee Gratis, yang menarik perhatian karena menempelkan tulisan “kopi bayar suka-suka” untuk pengunjung. Konsep ini memadukan gaya urban kreatif dengan semangat berbagi, khas komunitas muda Malang.
Di sebelahnya, beberapa ruko tua kini diisi oleh pelaku UMKM kuliner dan produk kreatif lokal. Para pelancong yang berjalan kaki di sepanjang koridor Kayutangan dapat menjumpai stan-stan kecil dengan kopi lokal, kerajinan tangan, hingga cetakan sablon manual khas Malang.
Namun tidak semua toko mampu bertahan dalam arus perubahan. Beberapa tutup permanen atau berubah fungsi. Ada pula yang disewakan ke jaringan bisnis waralaba nasional. Bekas toko alat musik, misalnya, kini berubah menjadi studio kreatif dan ruang pertunjukan kecil.
Menurut Yoseph Aditya, pegiat sejarah urban Malang, revitalisasi ini penting namun harus tetap berpijak pada nilai sejarah kawasan.
“Kayutangan itu museum hidup. Modernisasi boleh, tapi jangan hilangkan identitasnya. Nama-nama toko legendaris seperti Toko Riyana atau Duta Parfum harus tetap ada meskipun sudah berubah fungsi. Itulah yang mengikat memori kolektif warga,” jelas Yoseph.
Kini, Kayutangan tak hanya menjadi tempat berbelanja atau bersantai, tapi juga menjadi bagian dari memori kota.
Warga dan wisatawan bisa menyeruput kopi sambil duduk di bangku taman, menikmati alunan musik dari pemusik jalanan, atau sekadar membaca puisi Chairil Anwar yang tergurat di dinding-dinding taman.
Replika trem tua bertuliskan “AKU” yang diparkir di tengah taman seolah mengajak setiap pengunjung untuk merenung dan melacak ulang jejak masa lalu yang masih hidup.
Kayutangan telah menjelma menjadi simpul antara kenangan dan harapan, tempat masa lalu bertemu dengan masa depan. Dan toko-toko tua di sepanjang jalan ini adalah nadinya yang terus berdenyut dari zaman kolonial hingga era digital hari ini.(mit)






















