Sudutkota.id – Pelaksanaan Mujahadah Kubro Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2), menjadi ujian nyata kesiapan kota dalam menangani agenda berskala nasional. Faktor cuaca, besarnya jumlah massa, hingga kehadiran Presiden Republik Indonesia menjadi indikator penting yang dinilai langsung oleh DPRD Kota Malang.
Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyampaikan bahwa meskipun hujan mengguyur sejak Sabtu sore hingga dini hari, kegiatan tetap berlangsung lancar, tertib, dan kondusif. Antusiasme jamaah dari berbagai daerah di Indonesia tidak surut, termasuk kehadiran majelis taklim dan warga NU yang memadati area stadion.
“Alhamdulillah kegiatannya berjalan lancar. Walaupun semalam hujan dari sore sampai dini hari, masih gerimis juga, tapi jamaah tetap banyak yang datang. Teman-teman NU hadir semua dan suasananya kondusif,” ujar Amithya.
Ia menambahkan, pengelolaan arus massa pascaacara juga berjalan relatif cepat dan tertib, menunjukkan adanya koordinasi yang cukup baik antara panitia, aparat keamanan, dan unsur pemerintah daerah.
“Tadi juga terlihat penguraian massa cukup cepat, jadi secara umum acara berjalan lancar,” imbuhnya.
Amithya juga memberikan apresiasi terhadap panitia penyelenggara serta seluruh pihak yang terlibat, khususnya atas kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto beserta jajaran menteri. Menurutnya, kehadiran kepala negara dalam kegiatan tersebut menjadi tolok ukur tersendiri bagi kesiapan Kota Malang.
“Kehadiran Presiden dan seluruh jajaran menteri tentu bukan hal kecil. Ini menunjukkan acara dipersiapkan dengan serius dan Kota Malang dipercaya untuk menjadi tuan rumah kegiatan besar,” tegasnya.
Lebih jauh, Ketua DPRD menilai Mujahadah Kubro NU harus dimaknai lebih dari sekadar agenda keagamaan. Ia menyebut kegiatan ini sebagai simulasi lapangan bagi Kota Malang dalam menghadapi event berskala nasional.
“Harapan kita, ke depan Kota Malang bisa benar-benar siap menerima kegiatan yang levelnya nasional, bukan hanya regional. Acara ini menjadi titik penting untuk melihat kesiapan kita,” katanya.
Terkait potensi wisata religi, Amithya mengakui Kota Malang memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor tersebut. Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan acara tidak boleh membuat pemerintah daerah lengah.
“Potensi wisata religi itu ada, tapi pasti masih banyak yang perlu dibenahi. Dari kegiatan sebesar ini, kita belajar bagaimana melayani tamu dalam jumlah besar dengan lebih baik ke depannya,” jelasnya.
Menurutnya, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas umum, manajemen massa, transportasi, hingga kenyamanan jamaah dan tamu luar daerah.
“Sesukses apa pun kegiatan, pasti masih ada hal-hal yang bisa disempurnakan. Tujuannya agar ke depan Kota Malang benar-benar siap melayani wisatawan religi dengan lebih maksimal,” tambahnya.
Ia berharap penguatan wisata religi dapat melengkapi identitas Kota Malang yang selama ini dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata umum.
“Kalau bisa, ini menjadi satu opsi baru bagi Kota Malang. Tidak hanya pariwisata umum, tapi juga pariwisata religi,” ucap Amithya.
Dari sisi kebangsaan, Amithya menegaskan peran strategis Nahdlatul Ulama sebagai organisasi besar yang memiliki kontribusi penting dalam sejarah Republik Indonesia. Momentum satu abad NU, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan dan soliditas nasional.
“NU punya andil besar dalam perjalanan bangsa ini. Tantangan ke depan tidak ringan, sehingga semua elemen masyarakat harus solid dan bersinergi,” katanya.
Ia juga menyinggung pesan Presiden Prabowo yang dinilainya relevan dengan kondisi bangsa saat ini.
“Kalau semua stakeholder masyarakat semakin solid, maka tantangan apa pun akan lebih mudah dihadapi,” pungkasnya.






















