Sudutkota.id – Kota Malang tidak hanya dikenal dengan panorama alam dan udaranya yang sejuk, tetapi juga menyimpan sejumlah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan bangsa.
Salah satunya adalah gedung di Jalan Cerme, Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, yang dulunya merupakan kantor Radio Republik Indonesia (RRI) Malang.
Kini, bangunan tersebut bertransformasi menjadi The Shalimar Boutique Hotel, sebuah destinasi heritage yang tetap mempertahankan nilai sejarah sekaligus menghadirkan wajah modern.
Bangunan ini berdiri sejak era kolonial Belanda, tepatnya pada awal 1930-an. Catatan sejarah menyebutkan gedung ini mulai dirancang dan dibangun sekitar tahun 1933 hingga 1935, dengan sentuhan arsitektur bergaya Nieuwe Bouwen.
Ciri khasnya adalah bentuk bangunan kubus dengan atap datar, jendela-jendela lebar, serta nuansa modern yang kala itu menjadi tren di Hindia Belanda. Sebelum kemerdekaan, gedung ini sempat menjadi markas perkumpulan Freemason atau yang dikenal dengan nama Maconieke Lodge.
Memasuki era 1960-an, tepatnya tahun 1964, bangunan ini mulai difungsikan sebagai kantor sekaligus studio RRI Malang. Dari tempat inilah berbagai siaran penting disampaikan, termasuk informasi pembangunan dan semangat mempertahankan kemerdekaan.
Selama hampir tiga dekade, gedung ini menjadi pusat penyiaran yang dikenal luas masyarakat Malang Raya.
Namun, seiring perkembangan dan kebutuhan kelembagaan, pada tahun 1993 RRI Malang resmi pindah ke gedung barunya di Jalan Candi Panggung, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Sejak saat itu, gedung bersejarah di Jalan Cerme beralih fungsi dan akhirnya direvitalisasi menjadi hotel berbintang yang dikenal sebagai The Shalimar Boutique Hotel.
Meski telah berubah fungsi, jejak sejarah masih sangat terasa di kawasan ini. Taman luas di halaman depan, keberadaan mobil antik, hingga tata ruang bergaya kolonial tetap dipertahankan.
Nuansa heritage inilah yang membuat The Shalimar tidak hanya menjadi tempat menginap, tetapi juga destinasi wisata sejarah bagi masyarakat maupun wisatawan.
Pemerintah Kota Malang menegaskan bahwa pelestarian bangunan cagar budaya seperti The Shalimar merupakan bagian penting dari menjaga identitas kota.
Bangunan ini bukan sekadar simbol arsitektur kolonial, melainkan juga saksi perjalanan sejarah penyiaran Indonesia. Kini, keberadaannya mampu memberi manfaat ganda, yakni tetap menjaga nilai historis sekaligus mendorong sektor ekonomi kreatif dan pariwisata kota.
Dengan transformasi ini, The Shalimar menjadi contoh bagaimana warisan sejarah bisa tetap hidup dan relevan. Dari sebuah gedung yang pernah mengudara melalui gelombang radio perjuangan, kini hadir sebagai ikon heritage yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Kota Malang.(mit)





















