Sudutkota.id – Di bawah rindangnya pepohonan tua yang menaungi kawasan eks-Senaputra di Kota Malang, aroma kopi perlahan menguat, berpadu dengan semilir angin yang membawa kenangan puluhan tahun silam.
Di sinilah, Cafe Crita Sena berdiri, tepat di samping kolam renang tua yang menjadi ikon hiburan Kota Malang sejak era 80-an. Kursi-kursi kayu tersusun rapi di area terbuka, menghadap ke permukaan air yang tenang.
Bagi sebagian pengunjung, duduk di sini bukan sekadar minum kopi, melainkan seperti membuka album foto lama dalam bentuk nyata.
“Tempat ini kami bangun bukan hanya untuk berjualan, tapi sebagai ruang interaksi, ekspresi, dan ruang bernapas di tengah kota,” ujar salah satu pengelola yang memilih tak disebutkan namanya.
Kafe yang mulai beroperasi sejak 15 Juni 2024 ini mengusung konsep “ruang cerita”, menyediakan tempat bagi komunitas untuk berdiskusi, menggelar musik akustik, pameran seni, pemutaran film indie, hingga menjadi kantor outdoor dadakan bagi mahasiswa dan pekerja lepas.
Menu yang ditawarkan sederhana dan ramah di kantong, namun disajikan dengan penuh perhatian. Kopi Tubruk dibanderol Rp 10 ribu, Mie Nyemek Crita Sena Rp 15 ribu, hingga roti dan pisang bakar dengan berbagai rasa di kisaran Rp 10–13 ribu.
“Suasananya adem banget, kayak di taman kampus, tapi bisa pesan kopi enak,” ujar Tika, mahasiswa Universitas Negeri Malang, sambil tersenyum.
Nama Senaputra bukan hal asing bagi warga Malang generasi 80–90-an. Berlokasi di belakang Rumah Sakit Saiful Anwar, kawasan ini dulu hidup sepanjang hari. Pagi hingga sore dipenuhi anak-anak yang berenang atau berlatih karate, sementara malamnya diwarnai siaran langsung Radio Senaputra, stasiun radio yang kala itu menjadi raja udara di Jawa Timur.
Salah satu penyiar legendarisnya, Ovan Tobing, dikenal luas berkat suara khas dan gaya membawakannya yang elegan. “Ovan Tobing itu penyiar kelas nasional. Banyak yang belajar siaran dari mendengar dia tiap malam,” kenang Ratna, mantan penyiar radio lokal.
Tak hanya radio, Senaputra juga menjadi rumah bagi sanggar tari tradisional yang rutin menggelar pertunjukan.
“Kalau sore sampai malam dulu ramai. Ada latihan tari, renang, lalu duduk-duduk sambil dengar radio. Suasana seperti itu susah dicari sekarang,” ujar Dimas, warga asli Malang yang tumbuh di era 90-an.
Pemerhati sejarah Kota Malang, Bambang Priyanto, menilai Senaputra adalah contoh nyata pentingnya ruang publik kreatif dalam membentuk ekosistem budaya.
“Senaputra bukan sekadar fasilitas, tapi ekosistem kreatif yang menghubungkan seni, olahraga, dan media. Hilangnya tempat ini berarti hilangnya ruang tumbuh bagi generasi,” ujarnya.
Namun memasuki era 2000-an, gemerlap itu meredup. Radio berhenti siaran, sanggar tidak lagi aktif, dan bangunan-bangunan mulai terbengkalai. Kini sebagian lahannya berubah fungsi menjadi bangunan komersial, termasuk Cafe Crita Sena. Sebuah papan besar di depannya menegaskan status tanah:
“Tanah Milik TNI AD Cq. Kodam V/Brawijaya. Dilarang Mengalihkan Hak Atas Tanah Ini Tanpa Izin.”
Ketua Komunitas Malang Tempoe Doeloe, Arif Wibowo, berharap keberadaan kafe dan sisa-sisa fisik Senaputra tidak sepenuhnya menghapus sejarahnya.
“Kalau pun lahannya berubah fungsi, semoga ada elemen sejarah yang tetap dipertahankan. Misalnya papan nama, arsip foto, atau program yang menghidupkan kembali semangat Senaputra,” ujarnya.
Kini, di antara dinding beton lama dan sisa panggung terbuka yang masih berdiri, Cafe Crita Sena seperti menjembatani waktu.
Di satu sisi menawarkan kenyamanan tempat ngopi bagi anak muda zaman sekarang, di sisi lain menyimpan napas panjang sejarah yang belum sepenuhnya padam.
Cafe Crita Sena bukan sekadar ruang ngopi. Ia adalah ruang cerita tempat di mana masa lalu dan masa kini duduk bersama, menyeruput kopi, dan menciptakan bab baru bagi ruang publik Kota Malang.
Sebab, meski Senaputra kini hanya tinggal nama, aromanya entah kopi atau kenangan, masih terasa bagi mereka yang pernah menghirupnya.(mit)






















