Daerah

Mayjend TNI Dr Heri Wiranto Ajak Masyarakat Jaga Persatuan, Demokrasi dan Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran

117
×

Mayjend TNI Dr Heri Wiranto Ajak Masyarakat Jaga Persatuan, Demokrasi dan Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran

Share this article
Mayjend TNI Dr Heri Wiranto Ajak Masyarakat Jaga Persatuan, Demokrasi dan Pemberdayaan Ekonomi Pekerja Migran
Mayjend TNI Dr Heri Wiranto, Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam, saat menyampaikan materi dalam Forum Koordinasi Peran Organisasi Masyarakat Dalam Pemberdayaan Ekonomi serta Edukasi Literasi Keuangan Bagi Pekerja Migran Indonesia di Hotel Grand Mercure, Kota Malang, Kamis (2/10/2025).(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Deputi Bidang Koordinasi Politik Dalam Negeri Kemenko Polhukam, Mayjend TNI Dr Heri Wiranto, menegaskan pentingnya menjaga semangat persatuan, demokrasi, dan toleransi dalam kehidupan berbangsa.

Hal itu ia sampaikan dalam Forum Koordinasi Peran Organisasi Masyarakat Dalam Pemberdayaan Ekonomi serta Edukasi Literasi Keuangan Bagi Pekerja Migran Indonesia yang digelar di Hotel Grand Mercure, Kota Malang, Kamis (2/10/2025).

Acara ini dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, pejabat daerah, hingga perwakilan organisasi masyarakat (ormas). Forum tersebut digagas untuk memperkuat peran ormas dalam meningkatkan kesejahteraan pekerja migran Indonesia melalui pemberdayaan ekonomi dan peningkatan literasi keuangan.

Dalam paparannya, Heri Wiranto menekankan bahwa demokrasi Indonesia telah melalui perjalanan panjang dengan berbagai tantangan. Mulai dari demokrasi parlementer (1950–1959), demokrasi terpimpin (1959–1966), demokrasi Pancasila (1966–1998), hingga era reformasi (1998–sekarang) yang menekankan kebebasan sipil, perlindungan HAM, dan keterbukaan informasi.

“Konstitusi sudah jelas, Pasal 28D ayat 3 UUD 1945 menjamin hak setiap orang untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat. Demokrasi adalah cara kita menjaga bangsa ini tetap utuh dan besar,” tegasnya di hadapan peserta.

Ia mengingatkan bahwa meskipun usia kemerdekaan Indonesia sudah mendekati 80 tahun, sebagai negara demokrasi bangsa ini masih relatif muda jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

“Belanda sudah berdiri sejak abad ke-15, Jepang sejak 1868, bahkan Amerika Serikat sudah lebih dari 200 tahun. Tapi kita tidak kalah, karena Indonesia punya kekuatan luar biasa: keberagaman, semangat persatuan, dan kekayaan alam,” ujarnya.

Heri juga menyoroti tantangan sekaligus peluang besar yang akan dihadapi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, yakni bonus demografi. Menurutnya, jika potensi ini tidak dikelola dengan baik, justru bisa menimbulkan masalah sosial.

Dalam konteks itu, pekerja migran Indonesia memegang peran penting. Mereka tidak hanya pejuang keluarga, tetapi juga penyumbang devisa yang signifikan bagi negara. Karena itu, literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak agar para pekerja migran mampu mengelola penghasilan secara bijak.

“Pekerja migran adalah pahlawan devisa. Tetapi kita juga harus memastikan, uang yang mereka hasilkan tidak habis begitu saja. Organisasi masyarakat bisa mengambil peran penting dengan memberi pendampingan, pelatihan, serta edukasi tentang literasi keuangan,” kata Heri.

Forum koordinasi ini juga membahas bagaimana ormas bisa menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas politik dan keamanan, sekaligus mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat. Keberadaan ormas di akar rumput dianggap mampu menjembatani komunikasi pemerintah dengan rakyat, termasuk dalam isu-isu pekerja migran.

“Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan hampir 100 bahasa daerah di Jawa Timur saja. Perbedaan itu luar biasa, dan justru menjadi kekuatan. Dengan keberagaman ini kita belajar untuk saling menghormati dan menjaga persatuan,” jelasnya.

Heri bahkan menyinggung sejarah kerajaan Majapahit yang sudah sejak lama mengelola keberagaman agama, melalui lembaga khusus yang mengurus umat Hindu dan Buddha.

“Sejarah mencatat, bangsa kita sudah terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan. Itulah semangat Bhinneka Tunggal Ika yang harus terus kita jaga,” tambahnya.

Forum yang berlangsung dengan suasana dialogis ini juga membuka ruang tanya jawab. Beberapa peserta menyampaikan aspirasi terkait perlindungan pekerja migran, peningkatan peran ormas di daerah, hingga pentingnya regulasi yang berpihak pada masyarakat bawah.

Menutup pemaparannya, Heri Wiranto berharap forum ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi nyata.

“Negara yang besar adalah negara yang menghormati sejarah, menjaga persatuan, dan mengutamakan kedaulatan rakyat. Mari kita rawat demokrasi, tingkatkan pemberdayaan ekonomi, dan dukung pekerja migran agar mereka bisa sejahtera,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *