Peristiwa

Kasus Keracunan Santri Jombang Mulai Terungkap, Kandungan Nitrit dan E.coli Ditemukan

3
×

Kasus Keracunan Santri Jombang Mulai Terungkap, Kandungan Nitrit dan E.coli Ditemukan

Share this article
Kasus Keracunan Santri Jombang Mulai Terungkap, Kandungan Nitrit dan E.coli Ditemukan
Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada.(foto:sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id – Kasus keracunan masal santri di Jombang yang terjadi di Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, mulai menemukan titik terang.

Hasil uji laboratorium Dinas Kesehatan (Dinkes) Jombang mengungkap adanya kandungan zat berbahaya pada makanan serta pencemaran bakteri pada sumber air di lingkungan pondok.

Kepala Dinkes Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada, menjelaskan bahwa sampel makanan berupa telur asin yang dikonsumsi para santri terbukti mengandung nitrit, zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan.

“Kadar nitrit yang ditemukan mencapai 28 mikrogram per kilogram berat badan. Secara normal, makanan tidak boleh mengandung nitrit karena bisa memicu gejala seperti mual, muntah, hingga gangguan pencernaan,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Tak hanya dari makanan, penyebab keracunan santri di Pondok Pesantren Mojoagung juga diduga berasal dari air yang digunakan sehari-hari. Hasil pemeriksaan menunjukkan tingginya kandungan bakteri Escherichia coli (E.coli) pada air yang dipakai untuk memasak dan mencuci.

“Seharusnya kandungan E.coli itu nol, namun hasil uji menunjukkan angka antara 1.030 hingga 2.030 per mililiter. Ini sangat berisiko menyebabkan sakit perut, mual, hingga diare,” jelasnya.

Selain itu, dari sampel muntahan santri juga ditemukan bakteri Bacillus cereus, yang dikenal sebagai salah satu penyebab utama keracunan makanan.

Meski demikian, Dinkes Jombang belum dapat memastikan sumber utama kontaminasi secara pasti. Pasalnya, tidak semua makanan yang dikonsumsi santri dilakukan pengujian, termasuk buah pisang yang juga sempat dikonsumsi sebagian korban.

“Pemeriksaan difokuskan pada telur asin, rawon, air, serta sampel muntahan,” tambah Hexawan.

Ia menduga telur asin menjadi salah satu pemicu utama keracunan karena kandungan nitrit yang tidak semestinya. Namun, tidak semua santri yang mengonsumsi makanan tersebut mengalami gejala serupa.

“Diduga ada faktor intoleransi atau perbedaan kualitas makanan, termasuk kemungkinan distribusi yang tidak merata,” paparnya.

Terkait munculnya nitrit dalam makanan, Hexawan menyebut hal tersebut bisa dipengaruhi oleh proses penyimpanan yang terlalu lama atau kualitas bahan baku yang kurang terkontrol.

“Bisa karena penyimpanan atau sumber bahan yang berbeda. Ini harus menjadi evaluasi dalam sistem pengadaan bahan makanan di pondok,” ujarnya.

Sebagai langkah penanganan kasus keracunan massal di pesantren Jombang, Dinkes telah memberikan pembinaan kepada pengelola pondok, terutama terkait peningkatan sanitasi lingkungan.

Perbaikan sistem filtrasi air juga diminta segera dilakukan untuk menekan risiko pencemaran bakteri.

“Kami tekankan pentingnya sanitasi yang baik. Sistem penyaringan air harus diperbaiki agar kualitas air aman digunakan,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *