Sudutkota.id – Peringatan Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama Republik Indonesia menjadi momentum refleksi bagi penguatan peran Kemenag di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Pemerintah Kota Malang mengingatkan, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berpotensi menimbulkan persoalan baru jika tidak diimbangi dengan penguatan moderasi beragama
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, saat memimpin upacara HAB ke-80 Kemenag RI yang digelar di MAN 1 Kota Malang, Jalan Raya Tlogomas No. 21, Sabtu (3/1/2026). Upacara berlangsung khidmat dan diikuti jajaran Kemenag, tenaga pendidik, pelajar, serta unsur pemerintah daerah.
Dalam sambutan Menteri Agama yang dibacakannya, Wahyu menegaskan bahwa Kementerian Agama tidak boleh tertinggal oleh arus digitalisasi. Pemanfaatan AI dinilai sebagai keniscayaan, namun harus disikapi secara bijak agar tidak menggerus nilai-nilai kehidupan beragama.
“Perkembangan teknologi, termasuk AI, tidak bisa dihindari. Namun jika tidak dibarengi dengan penguatan moderasi beragama, teknologi justru bisa memunculkan persoalan baru di tengah masyarakat,” tegas Wahyu.
Ia menambahkan, Kemenag memiliki peran strategis dalam memastikan modernisasi berjalan seiring dengan penguatan nilai toleransi dan kerukunan umat beragama. Menurutnya, kemajuan teknologi harus menjadi alat pemersatu, bukan pemicu disharmoni sosial.
Selain menyoroti isu teknologi, Wahyu juga mengapresiasi Kementerian Agama Kota Malang atas kontribusinya menjaga iklim toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Sinergi antara Kemenag dan Pemerintah Kota Malang dinilai telah berjalan baik dan perlu terus diperkuat.
“Kami mengapresiasi peran Kemenag dalam menjaga moderasi dan toleransi kehidupan beragama di Kota Malang. Ke depan, kemitraan program dengan Pemkot akan terus kami perkuat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Achmad Shampton, S.HI., M.Ag., menegaskan bahwa peringatan HAB ke-80 bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan momentum evaluasi dan penguatan integritas Kemenag dalam melayani umat.
“HAB adalah refleksi untuk membangun kualitas integritas, karakter, dan moderasi beragama. Tujuannya satu, memperkuat persatuan menuju Indonesia Emas,” jelas Achmad.
Ia menyebut MAN 1 Kota Malang menjadi salah satu contoh penguatan karakter dan moderasi beragama melalui berbagai inovasi pendidikan. Selain prestasi akademik, madrasah juga didorong melahirkan generasi yang toleran dan berwawasan kebangsaan.
Dalam rangkaian HAB ke-80, Kemenag Kota Malang juga menggelar berbagai lomba edukatif, salah satunya lomba membaca kitab kuning yang mengantarkan MAN 1 Kota Malang meraih juara dua. Prestasi tersebut dinilai sebagai bukti kontribusi madrasah dalam pembangunan sumber daya manusia.
Achmad menambahkan, penguatan moderasi beragama menjadi perhatian serius di tengah tantangan media sosial yang kerap memicu gesekan antar kelompok. Karena itu, Kemenag Kota Malang terus mengembangkan program berbasis masyarakat.
“Kami memiliki Kampung Sadar Kerukunan dan Kampung Moderasi Beragama yang menjadi percontohan di Jawa Timur, bahkan menarik perhatian dari luar negeri,” ungkapnya.
Ke depan, Kemenag Kota Malang juga menggagas program family corner berbasis rumah ibadah sebagai upaya membangun kerukunan sejak lingkup keluarga.
“Teknologi berkembang sangat cepat. Tugas kita bersama adalah memastikan nilai-nilai kebangsaan dan toleransi tetap kokoh agar tidak tergeser oleh arus digital,” pungkas Achmad.






















