Daerah

Generasi Digital Disorot, Wali Kota Malang Ingatkan Bahaya Medsos untuk Anak 16 Tahun ke Bawah

8
×

Generasi Digital Disorot, Wali Kota Malang Ingatkan Bahaya Medsos untuk Anak 16 Tahun ke Bawah

Share this article
Wali Kota Malang berfoto bersama Ketua DPRD Kota Malang dan mantan Ketua DPRD Kota Malang, Arif, usai peringatan HUT ke-112 Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang tak hanya menjadi panggung perayaan, tetapi juga ruang refleksi atas tantangan zaman yang kian kompleks. Salah satu yang disorot tajam adalah fenomena penggunaan media sosial (medsos) oleh anak-anak di bawah usia 16 tahun.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, secara tegas mengingatkan bahwa generasi digital saat ini menghadapi ancaman serius jika tidak dibekali pengawasan dan literasi yang memadai. Ia menilai, kemudahan akses teknologi justru menjadi “pisau bermata dua” bagi tumbuh kembang anak.

“Anak-anak sekarang sangat cepat beradaptasi dengan teknologi, tapi belum tentu siap secara mental. Ini yang berbahaya kalau tidak ada kontrol,” ujarnya.

Menurut Wahyu, anak di bawah 16 tahun masih berada dalam fase pembentukan karakter dan jati diri. Di fase ini, paparan konten di media sosial sangat berpengaruh terhadap cara berpikir, bersikap, hingga mengambil keputusan.

Ia mengungkapkan, berbagai risiko mengintai, mulai dari kecanduan gadget, paparan konten negatif, hingga potensi terlibat dalam perundungan siber (cyberbullying). Bahkan, fenomena ikut-ikutan tren tanpa pemahaman dinilai semakin marak terjadi.

“Banyak anak hanya ikut tren di media sosial tanpa tahu dampaknya. Ini yang pelan-pelan bisa merusak pola pikir dan karakter mereka,” tegasnya.

Wahyu juga menyoroti lemahnya pengawasan terhadap aktivitas digital anak. Ia menilai, masih banyak orang tua yang memberikan akses penuh terhadap gadget tanpa pendampingan yang cukup.

“Tidak bisa anak dibiarkan bebas di dunia digital. Orang tua harus hadir, harus tahu apa yang anaknya lihat dan lakukan di media sosial,” katanya.

Selain keluarga, peran sekolah juga dianggap krusial. Ia mendorong agar pendidikan literasi digital diperkuat, sehingga anak-anak tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam memanfaatkannya.

Menurutnya, sinergi antara orang tua, sekolah, dan pemerintah menjadi kunci utama untuk menghadapi tantangan ini. Tanpa kolaborasi, upaya melindungi generasi muda dari dampak negatif media sosial akan sulit terwujud.

Momentum HUT ke-112 Kota Malang pun dijadikan pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan ekonomi, tetapi juga tentang menjaga kualitas generasi penerus di tengah derasnya arus digital.

“Kalau generasi mudanya tidak kita jaga, maka masa depan kota ini juga terancam. Ini bukan hal sepele,” ujarnya dengan nada serius.

Meski demikian, Wahyu tidak menutup mata terhadap sisi positif media sosial. Ia menilai, jika diarahkan dengan benar, medsos justru bisa menjadi sarana edukasi, kreativitas, hingga promosi potensi daerah.

Namun ia kembali menegaskan, kunci utamanya adalah pengawasan dan pembinaan sejak dini.

“Media sosial itu alat. Bisa jadi peluang besar, tapi juga bisa jadi ancaman nyata. Tergantung bagaimana kita menggunakannya,” pungkasnya.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *