Daerah

Festival Gerabah Penanggungan III 2025: Upaya Kolektif Angkat Derajat Seni Gerabah di Tengah Persaingan Zaman

135
×

Festival Gerabah Penanggungan III 2025: Upaya Kolektif Angkat Derajat Seni Gerabah di Tengah Persaingan Zaman

Share this article
Festival Gerabah Penanggungan III 2025: Upaya Kolektif Angkat Derajat Seni Gerabah di Tengah Persaingan Zaman
Babinkamtibmas Kelurahan Penanggungan, Aiptu Sapto saat mengunjungi stand gerabah dalam Festival Gerabah Penanggungan III Tahun 2025 di sepanjang Jalan Banten, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Minggu (7/9/2025) malam.(foto:sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Sepanjang Jalan Banten, Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, berubah menjadi pusat keramaian pada Minggu (7/9/2025) malam.

Ribuan warga tumplek blek menyaksikan kemeriahan Festival Gerabah Penanggungan III Tahun 2025, sebuah acara yang memadukan unsur tradisi, edukasi, dan ekonomi kreatif.

Acara yang berlangsung dua hari ini merupakan hasil kolaborasi antara Festival Gerabah yang digagas Kelurahan Penanggungan dengan Pasar Kerempiang milik RW 02.

Perpaduan keduanya menghasilkan atmosfer yang lebih meriah, sekaligus menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali tradisi gerabah yang sempat terpinggirkan oleh produk-produk modern.

Ketua RW 02 sekaligus Ketua Panitia, Ace Hakim, menuturkan bahwa festival ini adalah ikhtiar bersama warga agar kerajinan gerabah kembali punya tempat istimewa di hati masyarakat.

“Gerabah itu bagian dari sejarah dan identitas Penanggungan. Kalau dulu gerabah hanya dipakai untuk peralatan rumah tangga, sekarang kami ingin menegaskan bahwa gerabah bisa diolah jadi produk kreatif yang bernilai seni tinggi. Bisa jadi hiasan rumah, souvenir, celengan, bahkan craft yang layak dipasarkan hingga luar daerah,” ujarnya.

Namun, Ace tidak menutup mata terhadap tantangan yang dihadapi para perajin. Salah satu faktor terbesar adalah kesulitan bahan baku.

“Dulu, bahan baku tanah liat masih bisa didapatkan dengan mudah. Sekarang semakin sulit. Bahkan banyak perajin terpaksa mendatangkan bahan dari wilayah lain seperti Kabupaten Jombang. Itu pun tidak selalu lancar, karena lahan-lahan penghasil tanah liat banyak yang sudah berubah fungsi, sebagian malah dibangun menjadi kos-kosan atau bangunan baru. Dekat kampus, nilai ekonominya lebih tinggi kalau dijadikan tempat tinggal. Nah, inilah tantangan kita semua, bagaimana kerajinan gerabah ini bisa bangkit lagi di tengah keterbatasan bahan,” jelas Ace.

Selain bahan baku, masalah pemasaran dan daya saing dengan produk industri juga menjadi kendala besar.

“Kami sadar, persaingan dengan produk dari daerah lain sangat ketat. Karena itu, kami butuh dukungan pemerintah dan pihak terkait untuk melakukan inovasi, terutama pada bahan baku. Dengan bantuan teknologi, kualitas gerabah bisa ditingkatkan sehingga lebih awet, lebih estetik, dan tidak kalah dengan produk industri. Itu penting supaya perajin tetap bertahan,” tambahnya.

Ace juga menekankan pentingnya regenerasi perajin. Saat ini, Kelurahan Penanggungan sudah memiliki galeri gerabah dan mengadakan workshop edukasi.

“Beberapa sekolah sudah kami ajak praktik langsung membuat gerabah. Harapannya, anak-anak muda ini tertarik, muncul generasi baru yang bisa melanjutkan tradisi. Festival ini bukan hanya ajang jualan, tapi juga ruang edukasi. Kalau tidak ada regenerasi, kita khawatir warisan budaya ini lama-lama hilang,” tegasnya.

Festival Gerabah Penanggungan III juga menjadi sarana pemberdayaan UMKM. Banyak stan yang menjual produk lokal laris manis diserbu pengunjung. Menurut Ace, beberapa pelaku usaha bahkan berharap kegiatan ini bisa digelar lebih sering karena dampak ekonominya sangat terasa.

“Alhamdulillah, dua hari ini pengunjung sangat ramai. UMKM yang ikut juga sangat terbantu. Bahkan ada yang bilang omzetnya naik berkali lipat. Ini bukti bahwa gerabah bisa dikawinkan dengan geliat ekonomi kreatif, sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.

Lebih jauh, Ace berharap festival serupa tidak hanya berhenti di RW 02 atau di sentra tradisional RW 5 dan RW 6. Ia mengusulkan agar ke depan festival bisa digelar bergilir ke seluruh RW di Kelurahan Penanggungan.

“Gerabah jangan hanya identik dengan dua RW. Kalau festival ini bisa keliling RW, semua warga akan merasa memiliki. Meski mungkin tidak semua RW membuat gerabah, mereka tetap bisa berpartisipasi lewat karya hiasan, souvenir, atau kreasi berbasis gerabah. Dengan begitu, gerabah benar-benar menjadi identitas bersama seluruh Penanggungan,” pungkasnya.

Festival Gerabah Penanggungan III Tahun 2025 menjadi bukti nyata bahwa di tengah derasnya modernisasi, tradisi masih bisa tumbuh dan berkembang jika ada semangat kolektif masyarakat. Acara ini sekaligus mengirim pesan bahwa seni lokal bukan sekadar warisan, tetapi juga aset ekonomi kreatif yang patut dijaga dan dikembangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *