Sudutkota.id – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-112 Kota Malang tak hanya diwarnai seremoni, tetapi juga upaya serius menguatkan identitas budaya. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pengenalan busana khas Kota Malang yang sarat makna sejarah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang, Suwarjana, menegaskan bahwa busana tersebut bukan sekadar pakaian seremonial, melainkan simbol perjalanan panjang Kota Malang dari masa ke masa.
“Busana khas ini kami rancang dengan filosofi yang kuat, menggabungkan nilai-nilai lokal dan sejarah Malang sejak era pra-kolonial hingga sekarang,” ujar Suwarjana.
Ia menjelaskan, unsur batik khas Malangan menjadi bagian utama dalam busana tersebut. Motif yang digunakan tidak hanya menonjolkan estetika, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya dan identitas masyarakat Malang.
Selain itu, penggunaan kain panjang yang dililitkan di bagian pinggang hingga paha menjadi simbol kesinambungan tradisi. Sementara ikat kepala yang dikenakan melambangkan kehormatan, kewibawaan, serta karakter masyarakat Malang yang kuat dan berbudaya.
“Setiap detail memiliki makna. Ini bukan sekadar desain, tetapi representasi sejarah yang hidup,” tegasnya.
Busana ini juga terinspirasi dari jejak sejarah Malang yang telah ada jauh sebelum ditetapkan sebagai kota pada 1 April 1914. Bahkan, nilai-nilai yang diangkat merujuk pada masa kepemimpinan para adipati yang menjadi bagian penting dalam perjalanan awal wilayah Malang.
Dalam perkembangannya, desain busana khas ini dikemas dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan akar tradisionalnya. Hal ini dilakukan agar tetap relevan dengan generasi muda sekaligus mampu bersaing di tengah arus globalisasi.
“Ini adalah bentuk harmonisasi antara budaya lokal dan perkembangan zaman. Kita ingin Malang tampil sebagai kota yang berkelas, tapi tetap berakar kuat pada sejarahnya,” jelas Suwarjana.
Menurutnya, penguatan identitas melalui busana menjadi langkah strategis di tengah tantangan modernisasi yang berpotensi mengikis budaya lokal. Dengan menghadirkan simbol yang kuat dan mudah dikenali, diharapkan masyarakat semakin bangga terhadap jati dirinya.
Momentum HUT ke-112 ini pun dijadikan refleksi bahwa pembangunan kota tidak hanya soal fisik dan ekonomi, tetapi juga pelestarian nilai budaya dan sejarah.
“Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi. Busana ini adalah salah satu cara kita merawat sejarah sekaligus memperkenalkan identitas Kota Malang kepada generasi mendatang,” pungkasnya.





















