Daerah

SPAM Sumber Wadon Ambil 20 Liter per Detik, Warga Putukrejo Tagih Jaminan Debit Tak Menyusut

8
×

SPAM Sumber Wadon Ambil 20 Liter per Detik, Warga Putukrejo Tagih Jaminan Debit Tak Menyusut

Share this article
SPAM Sumber Wadon Ambil 20 Liter per Detik, Warga Putukrejo Tagih Jaminan Debit Tak Menyusut
Direktur Teknik Perumda Tirta Kanjuruhan, Muhammad Haris Fadillah, saat memberikan keterangan kepada awak media terkait pembangunan SPAM di Sumber Wadon, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi.(foto:sudutkota.id/ist.)

Sudutkota.id – Pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) milik Perumda Tirta Kanjuruhan di Sumber Wadon, Desa Putukrejo, Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, memicu gelombang kekhawatiran warga, Kamis (12/2/2026).

Proyek yang kini memasuki tahap uji coba itu disebut mengambil air hingga 20 liter per detik. Warga pun menagih jaminan tegas agar debit sumber tidak menyusut. Karena Sumber Wadon selama ini menjadi urat nadi kebutuhan air bersih masyarakat Putukrejo.

Sebelumnya, pengelolaan Sumber Wadon dilakukan melalui Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) WSLIC yang telah lama melayani kebutuhan rumah tangga warga desa.

Masuknya SPAM Perumda ke sumber yang sama memunculkan kekhawatiran akan potensi berkurangnya debit air. Apalagi, kapasitas pengambilan yang disampaikan pihak Perumda tidak kecil.

Direktur Teknik Perumda Tirta Kanjuruhan, Muhammad Haris Fadillah, membenarkan bahwa kapasitas pengambilan air mencapai sekitar 20 liter per detik.

“Kalau seluruhnya untuk pelanggan baru, itu bisa melayani sekitar 2.000 pelanggan. Tapi sebagian juga digunakan untuk optimalisasi wilayah lain seperti Ganjaran, Ketawang, Panggungrejo hingga Gondanglegi,” jelas Haris.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa operasional SPAM tidak akan bersinggungan dengan HIPPAM.

“Jaringannya berbeda dan tidak ada konflik kepentingan. Tidak mungkin HIPPAM masuk ke Perumda atau sebaliknya,” tegasnya.

Namun bagi warga, persoalan bukan sekadar soal jaringan berbeda. Yang menjadi sorotan adalah keseimbangan debit alami sumber dengan volume pengambilan air. Mereka meminta transparansi data teknis, termasuk kapasitas maksimum sumber, batas aman eksploitasi, serta kajian dampak terhadap suplai air HIPPAM.

Di sisi lain, pembahasan juga mengerucut pada komitmen sosial Perumda. Pemerintah desa disebut meminta adanya Corporate Social Responsibility (CSR) jika SPAM telah beroperasi dan menghasilkan laba.

“CSR diberikan setelah operasional berjalan dan ada laba bersih. Nanti dibagi, untuk PAD dan CSR,” terang Haris.

Selain CSR, desa juga mengusulkan sejumlah poin, seperti pemasangan sambungan gratis untuk tempat ibadah, pembebasan biaya pemasangan dan pemakaian minimal 10 meter kubik bagi warga kurang mampu yang terdata dalam KIS, serta pembinaan dan bantuan perizinan bagi HIPPAM jika diperlukan.

Adapun tiga program lain, perbaikan saluran irigasi, pengerasan jalan menuju sumber, dan bedah rumah disebut bukan bagian dari CSR Perumda, melainkan program pemerintah daerah yang telah mendapat disposisi Bupati.

Saat ini pembangunan fisik SPAM telah rampung dan memasuki tahap uji coba. Namun sebelum operasional penuh dilakukan, warga Putukrejo berharap ada jaminan tertulis dan pengawasan ketat agar pengambilan 20 liter per detik tidak berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat desa.

Bagi warga, Sumber Wadon bukan sekadar titik distribusi layanan, melainkan sumber kehidupan. Transparansi dan keberpihakan pada hak dasar masyarakat menjadi kunci agar proyek perluasan layanan air minum ini tidak berubah menjadi polemik berkepanjangan di Gondanglegi.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *