Daerah

Kolam IPAL Industri Tahu Sementara di Jombang Tidak Berfungsi Maksimal dan Sempat Makan Korban

23
×

Kolam IPAL Industri Tahu Sementara di Jombang Tidak Berfungsi Maksimal dan Sempat Makan Korban

Share this article
Kolam IPAL Industri Tahu Sementara di Jombang Tidak Berfungsi Maksimal dan Sempat Makan Korban
Tanah warga yang dirubah menjadi kolam penampungan IPAL industri tahu sementara.(foto:sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id – Kolam penampung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) industri tahu di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, tidak berfungsi maksimal.

Selain tidak berfungsi maksimal, kolam penampungan IPAL tahu sementara yang didirikan diatas lahan warga tersebut, pernah memakan korban jiwa.

Tamim (50) warga setempat mengatakan bahwa sejak penggalian lahan sawah miliknya pada tahun 2024 silam, kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu tidak berfungsi hingga kini.

“Itu sejak awal digali tahun 2024, memang tidak berfungsi, sampai sekarang,” kata Tamim, Sabtu (10/1/2026).

Pihaknya pun juga menegaskan bahwa sekitar bulan Agustus 2025, bocah umum tiga tahun yang merupakan anak dari salah satu warga setempat juga meninggal dunia usai tercebur ke dalam kolam penampungan IPAL industri tahu sementara tersebut.

“Iya pernah ada anak kecil meninggal tenggelam di kolam itu, umurnya sekitar tiga tahunan. Anak warga sekitar kolam limbah itu juga yang meninggal,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Triwibowo (66) warga Desa Mayangan yang lahannya digali untuk kolam penampungan IPAL industri tahu sementara.

“Kolamnya gak beroperasi sementara ini, ya dibiarkan saja sampai sekarang,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa pada musim kemarau, air limbah tahu memang dimasukkan ke kolam, namun pada musim penghujan seperti sekarang ini, kolam penampungan IPAL gak ndustri tahu sementara itu tidak berfungsi.

“Kalau musim penghujan memang tidak berfungsi, air limbah langsung masuk ke sungai, kalau musim penghujan, baru air limbahnya dimasukkan ke kolam situ,” paparnya.

Disinggung terkait adanya korban jiwa di lokasi kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu, ia menyebut bahwa memang pada bulan Agustus tahun kemarin, ada anak kecil yang tewas tenggelam di kolam tersebut.

“Itu tahun kemarin, bulan Agustus, anak kecil umur sekitar tiga tahun, anaknya pak T (inisial),” tuturnya.

Pihaknya pun menegaskan bahwa semula anak itu bermain di sekitar kolam penampungan IPAL industri tahu, dan saat sore hari, orang tua korban mencari. Namun, nahas bocah itu ditemukan meninggal dunia tenggelam di kolam tersebut.

“Ya anaknya itu main dari pagi gak pulang-pulang, terus sorenya dicari sama orang tuanya, dicari di kolam gak ketemu, pas malam hari anaknya ketemu di kolam kondisi mengapung,” ucapnya.

Dikonfirmasi terkait beberapa hal tersebut, ketua paguyuban perajin tahu, Imam Subeki membenarkan hal tersebut.

Ia mengaku memang kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu digali pada tahun 2024. Saat itu memang Sungai Rejoagung 2, terdampak air limbah tahu.

“Tahun 2024 lalu memang Sungai Rejoagung 2 itu sangat bau, sampai ke pondok pesantren darul ulum Rejoso, nah setelah itu ada upaya meminimalisir bau air sungai itu,” kata Subeki.

Setelah dilakukan koordinasi antar pihak, termasuk DLH Jombang, akhirnya ditemukan solusi untuk mengurangi dampak pembuangan limbah tahu ke Sungai Rejoagung 2.

“Nah akhirnya saya sebagai ketua paguyuban dan Kasun Murong Pesantren (Desa Mayangan), itu ada penggalian kolam di atas lahan milik BBWS atau milik petani saya juga gak tau, tetapi untuk mengurangi limbah itu lah, akhirnya saya buat (gali berbentuk kolam) untuk sementara, tidak permanen,” ujar Subeki.

Ditanya apakah kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu memang sejak awal sengaja difungsikan untuk mengurus beban limbah yang masuk ke sungai.

Ia pun membenarkan tujuan utama itu, dan kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu difungsikan pada saat musim-musim tertentu. Seperti musim kemarau.

“Iya betul, jadi dari sungai kecil masuk ke situ (kolam penampungan) tidak langsung ke sungai (Rejoagung 2). Di bagian barat itu kan ada beberapa pabrik tahu, biasanya masuk ke sungai, nah sebagian memang dialirkan ke situ (kolam penampungan IPAL limbah tahu sementara). Ya rencananya memang seperti itu,” paparnya.

Pihaknya pun membenarkan bila kolam penampungan IPAL industri tahu sementara itu tidak difungsikan, karena saat ini sedang musim penghujan. Sehingga aliran limbah tahu langsung masuk ke Sungai Rejoagung 2.

“Kenapa sekarang gak berfungsi, karena sekarang sedang musim penghujan, dan aliran air langsung ke sungai,” ujarnya.

Ia mengaku tidak berfungsinya kolam penampungan IPAL limbah tahu sementara itu, memang disengaja. Lantaran para perajin tahu, saat ini sedang menunggu pembangunan penampungan IPAL industri tahu permanen yang saat ini dibangun oleh PGN.

“Ya awal bulan nanti akan dilanjutkan lagi pembangunan IPAL yang bantuan dari kementerian dan dikerjakan sama PGN itu. Kalau itu jadi nanti kita semua membuang limbah tahu ke sana,” ujarnya.

Ketika ditanya apakah kolam ini memang sejak awal ini tidak berfungsi, ia mengaku kolam tersebut sempat difungsikan. “Oh itu difungsikan kalau saat musim kemarau, kalau penghujan gak difungsikan, kita gak pake, karena kita langsung buang ke sungai. Kalau kemarau itu kan bau, makanya kita fungsikan,” tuturnya.

Terkait dengan korban jiwa yang terjadi pada bulan Agustus 2025 kemarin, ia pun membenarkan hal tersebut.

“Iya waktu itu memang kolam masih kita fungsikan, kita kasih pagar, dan ya memang anak kecil itu kan kita gak tau ya, wong sudah kita tutup, kok bisa anaknya main di situ, ya memang ada (anak kecil tewas tenggelam),” ujarnya.

Ia pun menjelaskan bahwa pihak dari keluarga anak tersebut, menerima kejadian tersebut dengan ikhlas, karena orang tuanya juga merupakan salah satu perajin tahu.

“Nah kebetulan orang tuanya ini kan juga perajin tahu, dan dia menyadari, kalau kejadian itu karena kelalaian orang tua sendiri, kejadiannya ya sekitar tahun kemarin, pas musim kemarau,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *