Daerah

Ritual Purwa Tinempa di Singosari Jadi Magnet Pelestarian Budaya Nusantara

85
×

Ritual Purwa Tinempa di Singosari Jadi Magnet Pelestarian Budaya Nusantara

Share this article
Ritual Purwa Tinempa di Singosari Jadi Magnet Pelestarian Budaya Nusantara
Para tokoh adat dan sesepuh Singosari mengikuti doa bersama pada prosesi Purwa Tinempa yang dipimpin Empu Fanani.(foto:sudutkota.id/hid)

Sudutkota.id – Di tengah derasnya arus modernisasi, sebuah besalen (perapian tempa keris) sederhana di Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kembali menjadi saksi lestarinya tradisi leluhur.

Pada Selasa (09/12/2025), Besalen Condroaji milik Empu Fanani, menggelar upacara sakral Umbul Dungo dan Purwa Tinempa, sebuah prosesi awal sebelum pembuatan keris dimulai.

Acara yang dihadiri tokoh adat, sesepuh, dan masyarakat setempat itu tidak hanya menjadi ritual penyucian bahan logam, tetapi juga momentum menjaga keberlangsungan warisan budaya Jawa yang kian jarang ditemukan.

Prosesi dimulai dengan pembacaan doa dan pembakaran dupa di halaman besalen. Aroma dupa yang memenuhi udara menghadirkan nuansa khidmat, menandai dimulainya rangkaian upacara.

“Saya berharap seluruh hadirin turut memohon kelancaran prosesi Purwa Tinempa agar pembuatan keris berjalan tanpa hambatan,” ujar Empu Fanani di hadapan tamu undangan.

Keunikan tradisi ini terletak pada perpaduan doa lintas budaya. Setelah istighosah singkat dipimpin secara berjamaah, doa adat Bali dilanjutkan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman Nusantara. Adat Jawa kemudian menutup rangkaian doa dengan nuansa keteduhan yang khas.

Usai doa selesai, Empu Fanani dan asistennya memasuki besalen untuk memulai tahapan inti. Logam pilihan yang telah diberi doa dimasukkan ke tungku hingga berwarna merah pijar. Pemesan keris diberi kesempatan melakukan tujuh kali tempa, sebagai simbol niat serta keterlibatan batin dalam proses penciptaan pusaka.

Ritual diakhiri dengan santap bersama hidangan tradisional seperti tumpeng, ayam ingkung, aneka jajanan pasar, dan buah-buahan. Suasana akrab di antara para tamu menambah kesan hangat pada prosesi tersebut.

Salah satu pemesan keris, Cokorda Raka dari Bali, mengaku sebelumnya tidak memiliki ketertarikan pada dunia perkerisan. Namun ia merasa ada dorongan kuat setelah bertemu seorang pedagang barang antik di Malang yang menyebut nama Empu Fanani.

“Pertemuan itu seperti di luar nalar,” ujarnya usai mengikuti seluruh rangkaian ritual.

Empu Fanani menyampaikan bahwa proses pembuatan keris membutuhkan waktu sekitar tiga bulan, melalui tiga tahapan utama yang harus dilaksanakan dengan ketelitian dan kesabaran tinggi.

Ketua Masyarakat Adat Singosari (MAS), KRT Yusuf Tanoko, yang turut hadir menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, konsistensi perajin lokal dalam mempertahankan tradisi Purwa Tinempa merupakan cerminan kuatnya identitas budaya masyarakat Singosari.

“Pelestarian budaya seperti ini menjaga identitas dan jati diri bangsa,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *