Daerah

Biologi ITS Surabaya dan Sahabat Alam Indonesia Perkuat Benteng Sosial Konservasi dan Blue Economy lewat Evidence Base Conservation

181
×

Biologi ITS Surabaya dan Sahabat Alam Indonesia Perkuat Benteng Sosial Konservasi dan Blue Economy lewat Evidence Base Conservation

Share this article
Biologi ITS Surabaya dan Sahabat Alam Indonesia perkuat benteng sosial konservasi dan Blue economy lewat Evidence Base Conservation
Founder Sahabat Alam Indonesia, Andik Syaifudin saat memberikan materinya dihadapan para mahasiswa Biologi ITS Surabaya.(foto:istimewa)

Sudutkota.id – Study kasus kerusakan lingkungan di Malang Selatan semakin mengkhawatirkan. Seperti kasus perburuan satwa liar, rusaknya terumbu karang, hingga deforestasi harus menjadi perhatian semua pihak.

Tak hanya itu, kasus ketimpangan sosial membutuhkan penyelesaian lewat penguatan benteng sosial konservasi di akar rumput. Dan harus jadi perhatian serta bahasan di kalangan akademisi, masyarakat umum serta aktivis.

Departemen Biologi Institute Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya berkolaborasi dengan Sahabat Alam Indonesi, membagikan pengalaman study kasus di Malang Selatan. Bagaimana penguatan benteng sosial konservasi di akar rumput melalui evidence base conservation atau konservasi berbasis bukti.

Hal tersebut bisa menjadi langkah kongkret perubahan masyarakat, dalam upaya pelestarian ekosistem hutan dan pesisir. Sekaligus membuka jalan menuju implementasi ekonomi biru dan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan

Sinergi hexahelix antara pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, NGO/CSO/CO dan media, menjadi bagian peran penting pembangunan berkelanjutan termasuk didalamnya isu blue economy dan green economy.

Andik Syaifudin, founder Sahabat Alam Indonesia menyampaikan bagaimana stake holder bersama masyarakat bisa menerapkan Evidence Base conservation atau konservasi berbasis bukti.

“Dimana pengalaman cerita perubahan masyarakat yang destruktif melalui proses pendekatan sosial, agama dan budaya, mampu menjadi penguat benteng sosial konservasi, tanpa terjebak formalitas dan meminimalisir kegiatan manipulatif,” ujar Andik.

Harapannya, lanjut dia, semakin banyak mahasiswa yang mau terus belajar dan tergerak mengimplemetasikan keilmuannya dalam mengurai akar masalah sosial dan lingkungan di sekitar mereka.

Dosen Biologi ITS Surabaya, Farid kamal muzaki, S.Si, M.Si menyampaikan harapannya agar mahasiswa, biologi ITS khususnya, dapat mengambil hikmah pembelajaran dalam study kasus pendekatan masyarakat yang dilakukan praktisi, aktivis, NGO di akar rumput.

“Salah satunya dalam implementasi blue economy mendukung pembangunan berkelanjutan yang lestari dan selaras dengan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Farid.(pus)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *