Daerah

Ziarah Makam Leluhur, Warga Bunulrejo Peringati HUT ke-1091 dengan Napak Tilas Sejarah

28
×

Ziarah Makam Leluhur, Warga Bunulrejo Peringati HUT ke-1091 dengan Napak Tilas Sejarah

Share this article
Lurah Bunulrejo Winarko saat mengikuti ziarah dan doa bersama di Makam Mbah Kaji Aria, Kelurahan Bunulrejo, Blimbing, Kota Malang. (Foto: Sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Pemerintah Kelurahan Bunulrejo bersama tokoh masyarakat dan warga menggelar ziarah makam leluhur dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kelurahan Bunulrejo ke-1091, Jumat (9/1/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan hari jadi wilayah yang sarat nilai sejarah, budaya, dan spiritual.
Salah satu lokasi ziarah dilakukan di Makam Mbah Kaji Aria yang berada di wilayah RT 05 RW 16, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Di lokasi tersebut, rombongan tampak khidmat memanjatkan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini berjasa besar dalam perjalanan awal terbentuknya Bunulrejo.

Lurah Bunulrejo, Winarko, mengatakan bahwa ziarah makam leluhur ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bentuk refleksi sejarah serta upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu.

“Ziarah ini bertujuan untuk mendoakan para leluhur yang merupakan tokoh-tokoh yang disakralkan oleh warga setempat. Mereka memiliki peran penting dalam sejarah Bunulrejo, baik secara spiritual maupun sosial,” ujar Winarko kepada Sudutkota.id.

Winarko menjelaskan, secara historis dan berdasarkan cerita tutur yang berkembang di masyarakat, cikal bakal wilayah Bunulrejo diperkirakan telah ada sejak sekitar abad ke-10 hingga abad ke-11 Masehi. Periode tersebut bertepatan dengan masa awal berkembangnya kerajaan-kerajaan besar di Jawa, mulai dari era Mataram Kuno hingga peralihan menuju Mataram Islam.

Nama Bunulrejo diyakini berasal dari sosok legendaris bernama Bahlul, seorang pendekar sakti yang hidup pada masa itu. Dalam cerita rakyat setempat, Bahlul dikenal sebagai tokoh pemberani yang mampu mengalahkan para begal dan perampok yang kerap meresahkan masyarakat di wilayah ini, yang saat itu masih berupa hutan dan jalur perlintasan penduduk.

“Bahlul dikenal sebagai pendekar yang menjaga keamanan wilayah. Atas jasanya, ia kemudian diberi hadiah berupa sebuah taman yang indah,” terang Winarko.

Taman tersebut dalam perkembangan sejarah dikenal sebagai Ngujil, yang diyakini menjadi lokasi peristirahatan terakhir Bahlul .
Seiring perjalanan waktu, nama Bahlul mengalami perubahan pelafalan dalam bahasa lisan masyarakat menjadi Bunul.

Sementara kata “rejo” dalam bahasa Jawa bermakna ramai, makmur, atau subur. Dengan demikian, Bunulrejo dimaknai sebagai wilayah yang makmur, aman, dan tenteram berkat jasa serta keteladanan Bunul (Bahlul).

Selain makam Ngujil, keberadaan makam-makam tokoh sepuh seperti Mbah Kaji Aria menjadi penanda penting bahwa Bunulrejo tumbuh dan berkembang melalui peran banyak tokoh lokal. Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya berperan dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam pembentukan tatanan sosial masyarakat.

“Peringatan HUT ke-1091 ini kami jadikan momentum untuk mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan sejarah. Dari para leluhur, kita belajar tentang nilai perjuangan, keberanian, dan kebersamaan,” imbuh Winarko.

Ia berharap, rangkaian kegiatan HUT Bunulrejo tidak hanya menjadi perayaan seremonial, tetapi juga mampu memperkuat identitas wilayah dan menumbuhkan rasa memiliki warga terhadap sejarah serta masa depan Bunulrejo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *