Sudutkota.id- Warga Korea Selatan memberikan suara dalam pemilihan presiden khusus setelah enam bulan drama ketidakpastian yang dipicu oleh pemberlakuan darurat militer singkat oleh mantan presiden Yoon Suk Yeol pada Selasa (03/06).
Pemilihan ini menjadi momen penting bagi negara yang tengah mencari jalan untuk memulihkan stabilitas politik dan sosial.
Presiden yang terpilih akan dihadapkan pada tantangan besar dalam menyatukan masyarakat yang terpecah akibat peristiwa darurat militer, sekaligus menghadapi dampak ekonomi yang tertekan oleh ketidakpastian hubungan dagang dengan Amerika Serikat, mitra dagang utama Korea Selatan.
Sebelumnya, Yoon Suk Yeol dicopot dari jabatannya oleh Mahkamah Konstitusi pada 4 April, setelah pemakzulan oleh parlemen pada bulan Desember, sehingga masa jabatan lima tahunnya terhenti kurang dari tiga tahun. Keputusan ini memicu pemilu cepat yang akan menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan luar negeri negara tersebut.
Menurut Komisi Pemilihan Umum Nasional, yang dilansir dari Reuters, hingga pukul 3 sore waktu setempay, lebih dari 30 juta orang atau sekitar 69 persen pemilih telah memberikan suara di 14.295 lokasi, yang diantaranya adalah dealer mobil, pusat kebugaran, dan lapangan gulat tradisional Korea yang diubah fungsinya menjadi tempat pemungutan suara.
Suasana pemilu pun diwarnai harapan agar masalah yang terkait dengan darurat militer dapat diselesaikan secara transparan dan adil.
“Saya berharap masalah seputar darurat militer bisa diselesaikan dengan lebih jelas,” terang Kim Yong-Hyun (40), seorang warga Seoul.
Antusiasme pemilih terlihat lebih tinggi dibandingkan pemilu presiden 2022 pada waktu yang sama. Tempat pemungutan suara akan tetap dibuka hingga pukul 8 malam waktu setempat, sementara pemungutan suara awal menunjukkan partisipasi lebih dari sepertiga dari 44,39 juta pemilih yang memenuhi syarat.
Calon terdepan dari partai liberal, Lee Jae-myung, dalam sebuah posting di media sosial, mengajak masyarakat untuk menggunakan hak suara mereka. Sementara itu, kandidat konservatif Kim Moon-soo juga menyerukan partisipasi pemilih, dengan menekankan pentingnya memulihkan ekonomi dan stabilitas sosial.
Kedua calon berjanji akan membawa perubahan yang dibutuhkan negara, meski pendekatan mereka berbeda. Lee fokus pada program untuk kesetaraan dan dukungan bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah, sementara Kim mengedepankan perlunya pelonggaran regulasi bagi bisnis.
Isu mengenai upaya darurat militer menjadi sorotan utama dalam pemilu ini. Lee menyebut pemilu ini sebagai momentum penting untuk mempertanyakan kembali peran Partai Kekuatan Rakyat yang dipimpin Kim, sementara Kim menilai kepemimpinan Lee dapat membawa risiko bagi stabilitas hukum di negara tersebut.
Lee dan Kim telah memberikan suara mereka dalam pemungutan suara awal minggu lalu, sementara Yoon Suk Yeol dan istrinya memberikan suara pada hari Selasa di sekolah dekat kediaman mereka.
Banyak pemilih menyampaikan harapan agar presiden baru mampu memulihkan ketegangan yang muncul akibat krisis ini.
“Perekonomian telah memburuk sejak Desember lalum Kami menjadi sangat terpolarisasi. Saya berharap kita dapat bersatu kembali,” kata Kim Kwang-ma (81) yang masih bersemangat untuk memberikan suaranya
Pemilu ini juga menandai absennya kandidat perempuan untuk pertama kalinya dalam 18 tahun. Meskipun terdapat kesenjangan preferensi antara pemilih pria dan wanita muda, isu kesetaraan gender tidak menjadi fokus utama pada pemilu kali ini.
“Kurangnya perhatian pada kebijakan untuk perempuan dan kelompok minoritas membuat saya cukup kecewa,” kata Kwon Seo-hyun (18) mahasiswa yang baru pertama kali memberikan suara.
Menjelang pemungutan suara, jajak pendapat menunjukkan Lee unggul atas Kim dengan selisih 14 poin persentase, meski Kim berhasil mempersempit jarak tersebut sejak awal kampanye. Hasil jajak pendapat dari tiga jaringan televisi nasional akan dirilis sesaat setelah tempat pemungutan suara ditutup, sementara penghitungan suara dilakukan secara bertahap dan teliti.
Belum ada kepastian kapan hasil akhir akan diumumkan, tetapi Komisi Pemilihan Umum Nasional dijadwalkan untuk mengesahkan hasil pada hari Rabu. Pelantikan presiden baru diperkirakan akan segera dilakukan setelah itu, mengingat jabatan presiden masih kosong sejak pencopotan Yoon. (kae)





















