Internasional

Spanyol, Portugal, dan Italia Hadapi Aksi Protes Anti-Pariwisata

195
×

Spanyol, Portugal, dan Italia Hadapi Aksi Protes Anti-Pariwisata

Share this article
Aksi protes terkoordinasi terhadap pariwisata massal akan digelar secara serentak di Spanyol, Portugal, dan Italia pada Minggu (16/6), seiring meningkatnya keresahan masyarakat terhadap dampak sosial dan ekonomi dari lonjakan wisatawan di kawasan tersebut.
Penampakan wisatawan saat mengunjungi Park Guell, Barcelona (foto: REUTERS/Bruna Casas)

Sudutkota.id– Aksi protes terkoordinasi terhadap pariwisata massal akan digelar secara serentak di Spanyol, Portugal, dan Italia pada Minggu (16/6), seiring meningkatnya keresahan masyarakat terhadap dampak sosial dan ekonomi dari lonjakan wisatawan di kawasan tersebut.

Kelompok-kelompok aktivis di Barcelona bahkan menyerukan peserta aksi untuk membawa pistol air sebagai simbol protes terhadap pariwisata yang dianggap berlebihan dan merugikan warga lokal. Aksi serupa juga akan berlangsung di kota-kota lain seperti Granada, Palma, Ibiza, Lisbon, Venesia, Genova, Palermo, Milan, dan Naples.

Kemarahan publik di Eropa Selatan terus memuncak karena pariwisata dinilai mendorong warga lokal keluar dari kawasan pusat kota akibat melonjaknya harga sewa dan biaya hidup. Selain itu, meningkatnya arus wisatawan juga dianggap memperburuk kemacetan serta menggerus kualitas hidup penduduk.

Berdasarkan data terbaru, belanja perjalanan internasional di Eropa diperkirakan meningkat 11 persen menjadi USD 838 miliar tahun ini. Spanyol dan Prancis menjadi negara yang paling banyak dikunjungi wisatawan, dengan potensi mencetak rekor kunjungan baru.

Dilansir dari Reuters pada Jumat (13/06). Aksi ini dipelopori oleh aliansi SET (Sud d’Europa contra la Turistització), yang berarti “Eropa Selatan Melawan Pariwisasi Berlebihan”.

Daniel Pardo Rivacoba, juru bicara Majelis Lingkungan Barcelona untuk Degrowth Pariwisata, mengatakan bahwa gerakan ini bertujuan menyatukan suara masyarakat lintas negara yang terdampak negatif oleh industri pariwisata.

“Ketika pemerintah mengatakan bahwa kita harus fokus pada pariwisata, itu sama saja dengan meminta kami untuk hidup lebih miskin agar orang lain bisa menjadi lebih kaya,” ujar Pardo, menyoroti upah rendah dan kontrak kerja yang tidak layak di sektor ini.

Di Barcelona, jumlah wisatawan pada 2024 diperkirakan mencapai 26 juta, jauh melampaui populasi penduduk lokal yang hanya sekitar 1,6 juta jiwa. Survei pemerintah kota menunjukkan bahwa 31 persen warga menganggap pariwisata memberikan dampak negatif, angka tertinggi sepanjang sejarah.

Grafiti bertuliskan ‘Tourists Go Home’ mulai sering terlihat di dinding-dinding kota. Bahkan kantor badan pariwisata Barcelona menjadi sasaran aksi vandalisme dengan cat semprot yang menyuarakan penolakan terhadap pariwisata massal.

Menanggapi hal ini, otoritas pariwisata kota menyatakan bahwa mayoritas warga masih menyambut baik kehadiran wisatawan, sembari mengakui bahwa tantangan akibat pariwisata perlu ditangani serius. Pemerintah telah mengambil langkah seperti membatasi jumlah apartemen sewa jangka pendek dan menerapkan pajak turis.

Barcelona, yang bergantung pada pariwisata untuk 15 persen Produk Domestik Bruto (PDB), juga berencana untuk menghentikan semua izin sewa jangka pendek pada 2028. Kebijakan ini diambil menyusul lonjakan harga sewa sebesar 68 persen dalam satu dekade terakhir dan kenaikan harga rumah sebesar 38 persen, yang turut memperlebar kesenjangan sosial.

Namun, tidak semua pihak sepakat. Kepala wilayah Airbnb untuk Iberia, Jaime Rodriguez de Santiago, menyebut bahwa kebijakan pembatasan tersebut menyalahkan sewa jangka pendek secara sepihak, dan justru dapat mengatur distribusi wisatawan ke area yang kurang padat.

Sementara itu, rencana perluasan Bandara Barcelona yang diumumkan pekan ini oleh Presiden Sosialis Catalonia kembali memicu kecaman dari aktivis. Rencana tersebut dianggap bertentangan dengan upaya mengendalikan pariwisata massal.

Aksi protes di Italia berlangsung dengan beragam bentuk, dari demonstrasi terbuka hingga pemasangan spanduk simbolik, tergantung pada kota dan kelompok penyelenggara. Meski demikian, beberapa wilayah di Italia Selatan justru melihat pariwisata sebagai berkah yang menghidupkan ekonomi lokal dan meningkatkan keamanan.

Pihak kepolisian di wilayah Catalonia memastikan akan menjamin hak publik untuk menyampaikan aspirasi, sekaligus menjaga ketertiban dan kebebasan bergerak masyarakat selama aksi berlangsung. (kae)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *