Sudutkota.id – Pameran seni visual berupa fotografi budaya digelar di Gedung Kesenian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jombang, Jawa Timur pada Senin (30/3/2026).
Pameran ini menampilkan karya dua seniman, Sofan Kurniawan (Sofanka) dan Luhur Wahyu Wijaya, yang mengangkat tema budaya lokal sarat makna dan refleksi sosial.
Pameran fotografi di Jombang ini menjadi sorotan karena menghadirkan karya-karya yang tidak hanya kuat secara visual, tetapi juga mengandung pesan tentang identitas budaya, sejarah, hingga kritik sosial di tengah masyarakat.
Sofan Kurniawan, fotografer yang mengawali pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta pada 2003, dikenal memiliki latar belakang foto jurnalistik. Ia pernah berkarier di Jawa Pos Radar Jogja dan Bernas Jogja, sebelum kini berkarya di Jawa Pos Radar Mojokerto.
Dalam pameran ini, Sofanka mengusung tema “Travesti: Dialektika Tubuh dan Perlawanan”. Ia menyoroti fenomena travesti dalam kesenian ludruk, yakni pria yang memerankan tokoh perempuan di atas panggung.
Melalui karya fotografi tersebut, Sofanka membaca tubuh sebagai ruang dialektika yang tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga sarat makna sosial dan politik.
Ia menegaskan travesti dalam ludruk digambarkan sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, mulai dari masa kolonial hingga era modern.
“Ludruk bukan hanya hiburan, tetapi juga medium kritik sosial yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, fotografer asal Jombang, Luhur Wahyu Wijaya, menghadirkan karya bertajuk “Wayang Topeng Jatiduwur: Nafas Lama dalam Tubuh Baru”.
Luhur yang aktif berkarya sejak 2010 dikenal fokus pada visual storytelling, fotografi budaya, dan dokumenter. Dalam pameran ini, ia mengangkat kembali eksistensi Wayang Topeng Jatiduwur sebagai warisan budaya yang sempat terpinggirkan.
Menurutnya, topeng bukan sekadar objek visual, melainkan representasi identitas, sejarah, serta spiritualitas masyarakat lokal. “Fotografi menjadi cara untuk membaca ulang tradisi lama dalam konteks kekinian,” ungkapnya.
Pameran fotografi budaya di Jombang ini juga menjadi bagian dari upaya revitalisasi budaya lokal agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Karya-karya yang ditampilkan tidak hanya menyajikan keindahan visual, tetapi juga menghadirkan narasi kuat tentang keberlanjutan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
Pengunjung diharapkan tidak hanya menikmati karya seni, tetapi juga memahami pesan mendalam yang disampaikan melalui setiap foto yang dipamerkan.





















