Daerah

Pameran “Garis Hijau” Hadirkan Dialog Seni dan Lingkungan di Kota Batu

17
×

Pameran “Garis Hijau” Hadirkan Dialog Seni dan Lingkungan di Kota Batu

Share this article
Salah satu karya seni yang dipamerkan. (Foto: Sudutkota.id/rsw)

Sudutkota.id – Pondok Seni Batu kembali menghadirkan ruang perenungan publik melalui pameran seni bertajuk Garis Hijau yang digelar di Galeri Raos, Kota Batu, pada 10-31 Januari 2026.

Pameran ini menjadi medium dialog antara seni dan isu lingkungan di tengah pesatnya pembangunan kota wisata.

Pameran Garis Hijau dibuka untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB dengan tiket masuk Rp5.000. Agenda tahunan ini menampilkan puluhan karya seni dua dan tiga dimensi yang merekam perubahan ruang hidup serta tekanan pembangunan terhadap keberlanjutan lingkungan.

Ketua Yayasan Pondok Seni Kota Batu, Watoni, mengatakan pameran tahun ini diikuti oleh 47 perupa yang seluruhnya merupakan anggota Pondok Seni Batu. Tema lingkungan sengaja diangkat sebagai respons atas kondisi ekologis yang kian terdesak, khususnya di wilayah Kota Batu.

“Garis Hijau merupakan agenda rutin setiap Januari. Tahun ini kami melibatkan 47 perupa Pondok Seni Batu dengan fokus utama pada isu lingkungan,” ujar Watoni, Senin (19/1/2026).

Menurutnya, karya-karya yang dipamerkan lahir dari kegelisahan seniman terhadap alih fungsi lahan dan pembangunan masif yang berdampak langsung pada ekosistem. Melalui pendekatan artistik, para perupa mengajak masyarakat untuk lebih sadar dan bijak dalam memperlakukan alam.

“Pameran tersebut adalah bentuk respons kami terhadap perubahan lingkungan. Harapannya, publik bisa ikut merefleksikan bagaimana hubungan manusia dengan alam seharusnya dijaga,” tambahnya.

Secara konseptual, Garis Hijau mengangkat narasi pergeseran identitas Kota Batu dari kawasan agraris menuju kota wisata. Transformasi tersebut dinilai membawa konsekuensi ekologis berupa menyusutnya ruang hijau, meningkatnya urbanisasi, serta tarik-menarik kepentingan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.

“Melalui Garis Hijau, Pondok Seni Batu berharap seni dapat menjadi jembatan antara kesadaran, kritik, dan aksi nyata untuk masa depan lingkungan Kota Batu yang berkelanjutan,” katanya lagi.

Karya-karya yang dipajang tidak hanya mendokumentasikan realitas tersebut, tetapi juga menghadirkan kritik dan ajakan reflektif bagi pengunjung.

Pameran itu mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu, Dian Fachroni. Ia menilai seni memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran ekologis masyarakat.

“Kegiatan seperti ini penting untuk menjaga semangat berekologis. Seni mampu menyampaikan pesan lingkungan dengan cara yang inspiratif dan menyentuh,” ujarnya.

Selanjutnya, salah satu seniman Ahmad Saihu yang membuat karya seni bertajuk “Garis Putus’ dihadirkan sebagai respons atas kegelisahan terhadap semakin menyusutnya ruang hijau di Kota Batu akibat alih fungsi lahan, deforestasi, serta rendahnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan.

Saihu menjelaskan bahwa berkurangnya ruang hijau tidak hanya berdampak pada perubahan lanskap, tetapi juga memicu berbagai persoalan ekologis, seperti banjir, tanah longsor, hingga hilangnya sumber mata air.

“Karya ini berangkat dari kegelisahan saya melihat ruang hijau yang semakin menyempit akibat alih fungsi lahan dan deforestasi, ditambah dengan rendahnya kepedulian kita terhadap lingkungan. Dampaknya nyata, mulai dari banjir, longsor, hingga hilangnya mata air,” ujarnya.

Ia memilih visual patok batas tanah sebagai elemen utama karya karena dinilai merepresentasikan awal dari rangkaian panjang perubahan ruang. Menurutnya, patok batas bukan sekadar penanda wilayah, tetapi simbol awal klaim kepemilikan yang berujung pada kerusakan lingkungan.

“Patok batas saya gunakan sebagai idiom karena kehadirannya selalu membawa dampak bagi ruang di sekitarnya, baik hutan maupun lahan hijau. Patok ini menandai awal dari klaim kepemilikan, yang kemudian berlanjut pada deforestasi dan alih fungsi lahan,” jelasnya.

Penempatan karya Garis Putus di area trotoar juga disebut sebagai bagian integral dari konsep artistik. Ahmad menegaskan bahwa lokasi tersebut dipilih dengan tetap mempertimbangkan aspek keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.

“Penempatan di trotoar memang bagian dari konsep. Kami tetap memperhitungkan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan. Ketika orang merasa terganggu, gelisah, atau mempertanyakan keberadaan patok ini, di situlah karya mulai bekerja,” tuturnya.

Namun, ia menekankan bahwa rasa tidak nyaman yang muncul bukanlah tujuan akhir dari karya tersebut. Ketidaknyamanan justru dimaksudkan sebagai pemantik kesadaran publik terhadap pentingnya ruang hijau di tengah kota.

“Ketidaknyamanan itu bukan tujuan utama. Ini lebih pada upaya membangun kesadaran dan menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan ruang hijau yang semakin tergerus,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *