Religi

Mengalap Berkah di Balik Makam: Watu Junjung Jadi Magnet Spiritual

6
×

Mengalap Berkah di Balik Makam: Watu Junjung Jadi Magnet Spiritual

Share this article
Kondisi Watu Junjung di Jl. Simpang Anggodo, Dusun Jabon, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang. (Foto: sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Di balik ramainya kawasan Pemandian Wendit, tersimpan sebuah titik yang justru hidup dalam kesunyian dan keyakinan. Berjarak tak jauh dari lokasi wisata tersebut, tepatnya di sisi selatan Wendit, terdapat Watu Junjung yang berada di Jl. Simpang Anggodo , Dusun Jabon, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Memasuki area lokasi, suasana langsung berubah. Watu Junjung berada di dalam bangunan semi-tertutup berbalut terpal hijau. Di bagian tengah, batu utama tampak diletakkan di atas alas, dibalut kain putih, dikelilingi bunga tabur yang masih segar. Di sekitarnya terdapat pot tanaman, wadah air, hingga bendera merah putih yang berdiri di sudut area.

Nuansa hening terasa kuat. Lantai keramik yang mulai retak dan suasana makam umum di sekitarnya justru menambah kesan tua dan sakral, seolah tempat ini telah lama menjadi ruang spiritual bagi masyarakat.

Juru kunci setempat, Mbah Kacong, menyebut Watu Junjung tidak pernah sepi dari peziarah, bahkan banyak yang datang dari luar kota.

“Banyak yang datang dari luar kota. Mereka punya hajat masing-masing, lalu berdoa di sini,” ujarnya, Senin (23/3).

Ritual yang dilakukan sederhana namun sarat makna. Setelah berdoa, peziarah mencoba mengangkat batu tersebut. Jika berhasil, diyakini sebagai tanda doa akan dikabulkan. Jika tidak, dianggap sebagai isyarat bahwa hajat belum mendapat restu.

“Kalau bisa diangkat, mereka percaya itu tanda baik. Kalau tidak, ya dianggap belum waktunya,” jelasnya.

Penjaga situs Watu Junjung saat menunjukkan batu. (Foto: sudutkota.id/MIT)

Fenomena ini, menurut sejarawan Malang Dwi Cahyono, tidak bisa dilepaskan dari jejak panjang tradisi spiritual masyarakat Jawa yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Mataram Kuno.

Ia menjelaskan bahwa batu dalam konteks budaya lama sering kali bukan sekadar benda, melainkan simbol yang memiliki makna spiritual.

“Dalam tradisi lama, batu bisa menjadi media simbolik. Ia tidak hanya berfungsi sebagai penanda, tetapi juga bagian dari praktik spiritual masyarakat,” ujar Dwi.

Menurutnya, lokasi yang berdekatan dengan sumber air seperti Wendit juga memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut dahulu memiliki nilai sakral.

“Biasanya kawasan dengan sumber air alami itu menjadi pusat aktivitas spiritual. Sangat mungkin ada keterkaitan antara Watu Junjung dengan lanskap sakral di masa lalu,” tambahnya.

Meski demikian, ia menekankan bahwa fenomena yang berkembang saat ini merupakan bagian dari transformasi budaya di mana tradisi lama bertemu dengan praktik kepercayaan masyarakat modern.

“Yang kita lihat hari ini adalah bentuk lanjutan dari tradisi yang mengalami perubahan. Tapi akarnya tetap dari kepercayaan lama masyarakat,” tegasnya.

Di tengah modernisasi dan geliat wisata di sekitar Wendit, Watu Junjung tetap berdiri dalam diam. Tidak mencolok, namun terus didatangi.

Di antara makam, bunga tabur, dan suasana hening, batu itu menjadi titik temu antara sejarah, keyakinan, dan harapan,tempat di mana doa dipanjatkan, dan jawabannya seolah menunggu untuk dijunjung.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *