Sudutkota.id– Suasana Pendopo Kawedanan Singosari, mendadak hening sejenak ketika anak panah melesat dari busur menuju sasaran. Di bawah temaram malam, kegiatan bertajuk Hanjawani menghadirkan pengalaman berbeda melalui panahan tradisional yang dipadukan dengan sarasehan budaya. Sabtu (17/1/2026) malam.
Keheningan itu bukan sekadar suasana fisik, melainkan bagian dari proses membangun fokus dan ketenangan batin. Jurnalis Sudutkota merasakan aura kesakralan saat para peserta mengikuti tata cara panahan yang sarat makna dan nilai spiritual.

Kegiatan ini dipandu oleh guru pamanah tradisional asal Yogyakarta, Ki Wibie Mahhardhika. Ia menekankan pentingnya ketenangan jiwa, pengendalian napas, serta konsentrasi penuh sebelum tangan menarik tali busur dan pandangan tertuju pada sasaran.
Sebelum praktik memanah dimulai, para peserta terlebih dahulu mengikuti pengarahan dan sarasehan singkat. Dalam sesi ini diperkenalkan sejarah serta filosofi panahan yang berkembang di Nusantara, khususnya tradisi panahan Jawa yang sarat nilai kehidupan.
“Memanah bukan sekadar olahraga, tetapi juga olah jiwa dan olah rasa. Pemanah harus mampu menciptakan ketenangan dan fokus pada detik-detik sebelum menarik tali busur,” ujar Ki Wibie di sela-sela pelatihan.
Semetara itu, sejarawan dan arkeolog Prof. Dr. Dwi Cahyono menambahkan, gerakan dalam panahan tradisional Jawa memiliki kemiripan dengan yoga di India.
“Mulai dari posisi tubuh, pernapasan, hingga pengucapan mantra sebelum melepas anak panah, semuanya menyatukan raga, rasa, dan makna,” tuturnya.
Kegiatan Hanjawani ini dimotori oleh Kelompok Pelestari Budaya Panji Singosari yang baru diperkenalkan beberapa waktu lalu. Ketua Panji Singosari, Ivan Syailendra, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan mengenalkan panahan tradisional berbasis budaya sekaligus menjaring bibit atlet panahan.
“Sejak pengenalan kemarin, animo peserta sangat besar saat soft launching Panji Singosari. Hingga kini sudah ada sepuluh sekolah menengah yang mendukung dan bergabung, bahkan panahan akan dimasukkan sebagai kegiatan ekstrakurikuler,” terang Ivan kepada Sudutkota.
Ivan menambahkan, di Singosari sebenarnya sudah ada atlet panahan, namun belum memiliki wadah yang terorganisasi
“Dengan adanya Panji Singosari, kami berupaya menghimpun para atlet. Bulan Februari nanti kami juga akan menghadiri undangan UNESCO dalam kegiatan di Universitas Brawijaya Malang,” ujarnya.
Ketua Masyarakat Adat Singosari, Yusuf Tanoko juga menyatakan dukungannya terhadap kegiatan memanah tradisionalini.
”Ini sangat luar biasa karena disini selain olah raga juga ada olah rasa dan olah pikir. Dulunya olah raga ini hanya di ajarkan di lingkungan Keraton saja. Ini upaya-upaya pelestarian tradisi peninggalan leluhur yang harus kita jaga dan kita rawat bersama,”Jelasnya.
Camat Singosari, Wellem, S.Sos., menyambut positif inisiatif kegiatan tersebut.
“Harapannya bisa melahirkan atlet-atlet panahan sekaligus menjaga kelestarian budaya adiluhung, serta memperkuat Singosari sebagai kota wisata berbasis budaya yang memberi manfaat luas bagi masyarakat,” pungkasnya.






















