Sudutkota.id – Upaya mengurangi ketergantungan masyarakat pada beras dan tepung terigu terus digencarkan Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan). Salah satunya dengan menggelar Pelatihan Pengolahan Pangan Olahan Tahun 2025 yang berlangsung di Hotel Atria Kota Malang pada 27–29 Agustus 2025.
Acara ini menghadirkan berbagai narasumber, di antaranya Prof. Dr. Ir. Moh Sui, MP dari Universitas Widyagama Malang serta Canggi Fully Solidaritas dari PT Canggi Fully Group. Sedangkan peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat, mulai dari usulan Musrenbang kelurahan, kelompok tematik (GOW, PKK, GMNI, Muhammadiyah Care, dan lainnya), hingga usulan pokok pikiran DPRD. Total peserta yang mengikuti rangkaian pelatihan mencapai lebih dari 250 orang.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi, SP, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari program prioritas pemerintah daerah dalam meningkatkan ketahanan pangan dan diversifikasi konsumsi. Menurutnya, masyarakat perlu mulai terbiasa memanfaatkan potensi pangan lokal yang melimpah di Kota Malang.
“Hari ini kita melaksanakan pelatihan pangan olahan berbahan baku ubi jalar kuning, ungu, dan balas. Harapannya bahan-bahan lokal di Kota Malang dapat termanfaatkan dan terolah sehingga manfaatnya meningkat. Dari yang biasanya hanya direbus biasa, sekarang bisa kita kreasikan dalam bentuk makanan olahan dengan variasi menu berbeda, sehingga lebih menarik, lebih enak dilihat, dan lebih bernilai jual,” terang Slamet.
Ia menambahkan, tren konsumsi beras setiap tahun terus mengalami peningkatan. Jika dibiarkan, ketergantungan masyarakat pada beras akan semakin tinggi. Karena itu, perlu ada terobosan untuk memperkenalkan sumber karbohidrat alternatif.
“Sumber karbohidrat itu tidak hanya dari beras atau nasi. Bisa dari umbi-umbian, singkong, sukun, waluh, dan bahan pangan lokal lainnya. Dengan pelatihan ini kami ingin memberi edukasi dan menambah wawasan, sehingga masyarakat terbiasa mengonsumsi pangan selain beras dan tepung terigu,” imbuhnya.
Tak hanya soal kesehatan dan ketahanan pangan, pelatihan ini juga diharapkan membuka peluang usaha baru bagi peserta. Dengan mengolah bahan pangan lokal menjadi produk olahan yang inovatif, para peserta dapat memanfaatkannya untuk kebutuhan keluarga sekaligus peluang bisnis rumahan maupun UMKM.
“Malang ini kota pendidikan, kota wisata, dan industri kreatif. Kunjungan wisata cukup tinggi, baik dari dalam maupun luar kota. Kalau bahan pangan lokal bisa diolah menjadi produk menarik, tentu bisa dijual kepada wisatawan. Jadi manfaatnya ganda, untuk konsumsi sendiri dan menambah penghasilan keluarga,” jelas Slamet.
Peserta pelatihan berasal dari berbagai kelurahan, kelompok masyarakat, hingga organisasi perempuan. Tim Penggerak PKK Kota Malang juga dilibatkan secara aktif. Slamet menegaskan bahwa keterlibatan PKK penting karena sebagian besar peserta adalah ibu-ibu rumah tangga yang memiliki peran langsung dalam pengelolaan pangan keluarga.
“Program ini sejalan dengan gerakan PKK, termasuk program urban farming, forikan, dan pemberdayaan keluarga. Yang banyak dilibatkan adalah ibu-ibu, karena memang paling efektif mengedukasi masyarakat melalui PKK. Selain itu, pelatihan ini juga merupakan bagian dari 10 program prioritas Bapak Wali Kota,” ujarnya.
Dengan adanya pelatihan ini, Dispangtan Kota Malang berharap masyarakat semakin peduli pada diversifikasi pangan, tidak hanya untuk memperkuat ketahanan pangan daerah, tetapi juga untuk meningkatkan nilai ekonomi dari produk olahan berbasis bahan lokal.