Sudutkota.id – Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur (Dindik Jatim) terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya guru honorer.
Salah satunya melalui penguatan Program Terapan Ekonomi Guru (PROTEG) yang dinilai sukses mencetak wirausaha mandiri di kalangan pendidik di Kota Batu, Kamis (5/2/2026) kemarin.
Keberhasilan program tersebut dibedah Dindik Jatim dalam kegiatan sharing session yang diikuti 30 guru honorer unggulan dari berbagai daerah. Program ini merupakan hasil kolaborasi strategis dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan berfokus pada penguatan ekonomi guru melalui kewirausahaan berkelanjutan.
Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, menegaskan PROTEG dirancang sebagai solusi nyata atas keterbatasan pendapatan yang masih dihadapi sebagian guru honorer di Jawa Timur.
“PROTEG menjadi bentuk kepedulian pemerintah terhadap guru honorer. Kami ingin mereka tidak hanya bertahan, tetapi mampu mandiri secara ekonomi dengan usaha yang tertata dan legal,” ujar Aries, Jumat (6/2/2026).
Dalam program tersebut, peserta mendapatkan pembekalan komprehensif mulai dari manajemen usaha, pemasaran digital, hingga teknik copywriting untuk memperkuat daya saing produk. Kesejahteraan guru memiliki dampak langsung terhadap kualitas pembelajaran di sekolah.
“Ketika guru sejahtera, fokus dan semangat mengajar meningkat. Inilah pendidikan berdampak yang sedang kami bangun di Jawa Timur,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Pelaksana PROTEG Jatim, M. Zainul Asrori, memaparkan bahwa sejak diluncurkan awal 2024, program ini menunjukkan perkembangan signifikan. Jumlah peserta meningkat dari 200 menjadi 500 guru honorer.
“Hasil evaluasi pendampingan menunjukkan 30 persen peserta telah siap mandiri, 60 persen usaha berada pada fase pengembangan, dan 10 persen masih dalam pendampingan intensif,” jelasnya.
Unit usaha yang dikembangkan para guru pun beragam, mulai sektor kuliner, percetakan, tata busana, hingga industri kreatif.
“Bahkan sebagian besar usaha tersebut telah memiliki legalitas resmi. Kami siap melakukan pendampingan sampai nanti usaha mereka berjalan lancar,” urainya.
Salah satu peserta, Aryo Saputro Panji Riyanto, guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Malang, mengaku PROTEG membawa perubahan besar pada usaha kopi yang ia rintis sejak menjadi Guru Tidak Tetap (GTT) pada 2016.
“Pendampingan dari Dindik Jatim dan ITS sangat aplikatif. Sekarang kami punya kebun dan pengolahan sendiri, bahkan sudah menjadi pemasok tetap sejumlah kafe di Malang,” ungkap Aryo.






















