Peristiwa

Diduga Keracunan MBG di MI 09 Randuagung, 9 Siswa Tumbang hingga DPRD Desak Evaluasi Total Distribusi

18
×

Diduga Keracunan MBG di MI 09 Randuagung, 9 Siswa Tumbang hingga DPRD Desak Evaluasi Total Distribusi

Share this article
Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan, Zulham Ahmad Mubarok. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Insiden dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MI Al Maarif 09 Randuagung, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, menjadi sorotan serius. Dari total 494 siswa penerima manfaat pada Rabu (11/2/2026), sembilan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan dan harus mendapatkan penanganan medis.

Makanan MBG dibagikan kepada siswa sekitar pukul 08.45 WIB. Namun sekitar pukul 10.00 WIB, sejumlah siswa mulai mengeluhkan mual, muntah, diare, pusing hingga demam. Seluruh siswa yang terdampak diketahui berasal dari kelas VB.

Para siswa langsung dibawa ke puskesmas terdekat. Karena jumlah pasien datang hampir bersamaan, sempat terjadi antrean penanganan di IGD. Sebagian orang tua memilih membawa anaknya ke fasilitas kesehatan lain demi percepatan penanganan.
Anggota DPRD Kabupaten Malang dari Fraksi PDI Perjuangan, Zulham Ahmad Mubarok, saat dikonfirmasi Sudutkota.id, Jumat (13/2/2026), membenarkan kejadian tersebut.

“Total ada sembilan siswa. Enam siswa dipulangkan pada 11 Februari, kemudian dua siswa menyusul dipulangkan pada 12 Februari karena kondisinya berangsur membaik. Tinggal satu siswa atas nama Hafidz yang sempat dirawat di puskesmas dan kemudian dirujuk ke RS Muslimat karena suhu badannya naik dan keluhan tidak membaik,” jelasnya.

Dengan demikian, satu siswa masih menjalani perawatan lanjutan di RS Muslimat, sementara delapan siswa lainnya telah diperbolehkan pulang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, menu MBG hari itu terdiri dari nasi putih, tempe sambal ijo, ayam kungpao, tumis baby buncis tauco, serta buah naga. Dari keterangan siswa, diduga terjadi perubahan rasa dan bau pada tempe sambal ijo serta tumis baby buncis tauco.

“Informasi dari siswa menyebut ada perubahan rasa dan bau pada tempe sambal ijo dan tumis baby buncis tauco. Dua menu itu yang diduga menjadi penyebab,” ungkap Zulham.

Dari analisa di lapangan, pihak sekolah sebelumnya meminta agar MBG dikirim pukul 06.45 WIB untuk kebutuhan sarapan pagi siswa. Namun dalam pelaksanaannya, makanan baru dibagikan pukul 08.45 WIB. Selisih waktu tersebut diduga menjadi celah terpaparnya makanan oleh bakteri sebelum dikonsumsi.

Terkait insiden ini, pihak SPPG Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar selaku penyedia MBG disebut telah mengambil sejumlah langkah. Kepala SPPG melakukan konfirmasi dan pengecekan langsung kondisi siswa di puskesmas dan RS Muslimat.

Selain itu, pihak SPPG juga melakukan kunjungan intensif kepada siswa terdampak, memberikan kompensasi biaya pengobatan, serta berkoordinasi dengan Korwil SPPG Kecamatan Singosari guna mengantisipasi kejadian serupa.

Zulham menegaskan agar kejadian ini tidak ditutup-tutupi dan harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh.

“Ini menyangkut kesehatan anak-anak. Harus transparan dan dievaluasi total, mulai dari proses produksi, distribusi hingga pengawasan mutu. Program baik jangan sampai tercoreng karena kelalaian teknis,” tegasnya.

Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Evaluasi ketat terhadap standar keamanan pangan dalam program MBG dinilai mendesak agar kepercayaan publik tetap terjaga.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *