Wisata

Dari Situs Suci ke Destinasi Wisata: Misteri Kera Wendit, Penjaga Jejak Peradaban Kuno Malang

6
×

Dari Situs Suci ke Destinasi Wisata: Misteri Kera Wendit, Penjaga Jejak Peradaban Kuno Malang

Share this article
Kawanan kera ekor panjang berkeliaran di kawasan Pemandian Wendit. (Foto: sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Riuh suara kera yang saling bersahutan di kawasan Pemandian Wendit yang berada di Dusun Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, selama ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Namun di balik hiruk pikuk wisata tersebut, tersimpan lapisan sejarah panjang yang diduga berkaitan erat dengan jejak peradaban kuno di tanah Jawa.

Koloni kera di Wendit bukan sekadar satwa liar yang datang dan menetap tanpa alasan. Ada dugaan kuat, keberadaan mereka merupakan bagian dari kesinambungan ekosistem yang telah terbentuk sejak ratusan hingga ribuan tahun silam bahkan sejak era kerajaan kuno.

Sejarawan Malang, Dwi Cahyono, mengungkapkan bahwa kawasan Wendit memiliki keterkaitan dengan jejak Kerajaan Mataram Kuno, yang diperkirakan berkembang sekitar abad ke-9 Masehi.

Menurutnya, pada masa tersebut, kawasan dengan sumber air alami seperti Wendit bukan hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memiliki nilai spiritual tinggi. Telaga dan mata air kerap menjadi bagian dari kompleks bangunan suci tempat berlangsungnya ritual keagamaan, pemujaan, hingga aktivitas pertapaan.

“Kalau melihat pola pada masa lalu, sangat mungkin kawasan itu dulunya merupakan lokasi bangunan suci. Keberadaan kera bisa jadi bagian dari ekosistem sakral tersebut,” ujar Dwi, Senin (23/3/2026).

Ia menambahkan, dalam tradisi Hindu-Buddha, hubungan antara manusia, alam, dan satwa tidak bisa dipisahkan. Bangunan suci biasanya dikelilingi lanskap alami yang terjaga, termasuk keberadaan hewan-hewan tertentu yang memiliki makna simbolis.

Kera, dalam banyak kebudayaan, kerap diasosiasikan sebagai simbol penjaga, kecerdikan, hingga representasi spiritual tertentu. Keberadaan mereka di sekitar tempat suci bukanlah hal kebetulan, melainkan bagian dari keseimbangan kosmis yang diyakini masyarakat pada masa itu.

Fenomena serupa juga dapat ditemukan di berbagai wilayah Asia. Di India, koloni kera hidup berdampingan dengan kuil-kuil kuno. Begitu pula di Bali, di mana kera menjadi bagian tak terpisahkan dari kawasan pura. Bahkan di Jawa pada masa lampau, pola ini diyakini juga terjadi.

“Biasanya ada dua jenis satwa yang sering muncul di sekitar bangunan suci, yakni kera dan burung seperti merpati. Itu bukan kebetulan, tapi bagian dari lanskap budaya dan spiritual,” jelasnya.

Di Wendit, jejak tersebut seolah masih bertahan hingga hari ini. Meski bangunan sucinya mungkin telah hilang, rusak, atau tertimbun waktu, ekosistem yang menyertainya tetap hidup. Kera-kera yang kini menjadi tontonan wisata, bisa jadi adalah “penjaga terakhir” dari sejarah panjang yang belum sepenuhnya terungkap.

Ironisnya, di tengah geliat pengembangan pariwisata, dimensi sejarah dan arkeologis kawasan ini belum mendapat perhatian serius. Pengelolaan lebih menitikberatkan pada aspek rekreasi, sementara potensi nilai historisnya masih minim penggalian.

Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, kawasan Wendit berpeluang menjadi simpul penting dalam memahami jejak peradaban kuno di Malang. Bukan hanya sebagai tempat wisata air, tetapi juga sebagai ruang sejarah yang menyimpan narasi besar tentang hubungan manusia, alam, dan kepercayaan di masa lalu.

Kini, keberadaan kera Wendit tidak lagi bisa dipandang sederhana. Mereka bukan hanya penghuni hutan atau objek hiburan semata, melainkan bagian dari jejak panjang peradaban yang diam-diam masih bertahan, menunggu untuk benar-benar dipahami.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *