Sudutkota.id – Di balik hiruk-pikuk Ibu Kota, seorang perempuan muda asal Pasuruan, Jawa Timur, perlahan menapaki jalannya sendiri. Manda (20), mahasiswi Fakultas Hukum di salah satu universitas ternama di Jakarta, memilih hidup dengan ritme yang tak biasa, membagi waktu antara ruang kuliah, kantor advokat, dan panggung hiburan.
Usianya masih muda, namun pengalaman hidup yang dilalui Manda membentuknya menjadi pribadi yang matang. Di tengah tuntutan akademik, ia tetap aktif sebagai penyanyi dan model, dua bidang yang telah menjadi bagian dari hidupnya sejak remaja.
Bagi Manda, seni bukan sekadar hobi, melainkan ruang ekspresi dan pembentuk kepercayaan diri. Ketertarikannya pada dunia tarik suara bermula sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Lingkungan keluarga menjadi pintu awalnya mengenal musik. Sang ibu, yang juga seorang penyanyi, kerap menjadi inspirasi.
Dari kebiasaan melihat ibunya bernyanyi, tumbuh keinginan untuk belajar dan tampil. Perlahan, Manda mulai menekuni dunia modeling, membuka peluang tampil di berbagai kegiatan sambil tetap mengutamakan pendidikan.
Namun perjalanan hidup tak selalu berjalan lurus. Saat masih duduk di bangku SMA, Manda pernah berhadapan dengan persoalan hukum. Pengalaman itu menjadi fase paling berat dalam hidupnya. Ia mengakui masa tersebut sempat mengguncang mental dan arah masa depannya.
Alih-alih larut dalam keterpurukan, Manda justru memilih menjadikan peristiwa itu sebagai titik balik. Dari sanalah muncul ketertarikan mendalam terhadap dunia hukum. Ia ingin memahami sistem hukum secara menyeluruh, bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari prosesnya.
“Keputusan memilih Fakultas Hukum bukan datang secara instan, melainkan lahir dari refleksi panjang atas pengalaman hidup saya. Bagiku hukum bukan sekadar pasal dan teori, tetapi instrumen keadilan yang menyentuh kehidupan manusia secara nyata,” kata Manda, Sabtu (24/1/2026).
Keseriusannya menekuni dunia hukum kemudian membawanya ke Kantor Advokat Suwito Joyonegoro & Partners di Jakarta.
Di sana, Manda dipercaya menjadi asisten lawyer. Peran tersebut memberinya kesempatan belajar langsung tentang praktik hukum, mulai dari pendampingan perkara hingga dinamika kerja advokat.
Di tengah jadwal yang padat, Manda dituntut cermat membagi waktu. Kuliah, pekerjaan, dan aktivitas seni berjalan beriringan.
“Intinya, disiplin dan komitmen menjadi kunci agar semuanya tetap seimbang,” ujarnya.
Bagi Manda, setiap peran yang ia jalani saling melengkapi. Dunia seni membentuk keberanian tampil dan kepercayaan diri.
“Lalu hukum menempanya menjadi pribadi yang kritis dan berpikir sistematis. Keduanya ia jalani tanpa saling meniadakan,” imbuh dia.
Sementara itu, pimpinan kantor advokat tempatnya belajar, Suwito Joyonegoro, S.H., M.H., menilai Manda sebagai sosok muda yang memiliki kemauan belajar tinggi. Menurutnya, semangat Manda terlihat dari keseriusannya menyerap ilmu, meski harus menjalani berbagai peran sekaligus.
Suwito juga melihat pengalaman hidup yang dimiliki Manda justru menjadi nilai lebih.
“Dengan usia yang masih sangat muda, ia dinilai memiliki kepekaan dan ketangguhan mental yang penting dalam dunia hukum,” kata Wito sapaanya.
Menurut pria asli Kota Batu ini, kisah Manda menjadi potret perempuan muda yang berani bangkit, belajar dari masa lalu, dan menata masa depan dengan kesadaran penuh.
“Dari Pasuruan hingga Jakarta, dari panggung hiburan hingga ruang praktik hukum, ia menunjukkan bahwa kegigihan dan kemauan belajar mampu membuka jalan baru. Pengalaman hidup seberat apa pun dapat menjadi fondasi untuk tumbuh dan melangkah lebih kuat ke depan,” tutupnya.






















