Daerah

Belum Sebulan Diresmikan, Dry Fountain Alun-alun Merdeka Bau Pesing, DLH Kota Malang Akui Lemah Pengawasan

7
×

Belum Sebulan Diresmikan, Dry Fountain Alun-alun Merdeka Bau Pesing, DLH Kota Malang Akui Lemah Pengawasan

Share this article
Anak-anak asyik bermain dan mandi di area dry fountain Alun-alun Merdeka Kota Malang, yang belakangan dikeluhkan warga karena airnya berbau pesing. (Foto: Sudutkota.id/MIT)

Sudutkota.id – Area dry fountain yang digadang-gadang menjadi ikon baru Alun-alun Merdeka Kota Malang justru menuai sorotan tajam dari publik. Belum genap sebulan diresmikan, fasilitas ruang terbuka tersebut dikeluhkan warga karena airnya berbau pesing. Keluhan itu ramai disuarakan di media sosial dan memantik kritik terhadap pengelolaan fasilitas publik di jantung Kota Malang.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang, Drs. Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, MAP, saat dikonfirmasi awak media, Senin (9/2/2026), mengakui adanya persoalan tersebut. Ia menjelaskan, konsep dry fountain dipilih sebagai bagian dari transformasi Alun-alun Merdeka agar lebih terbuka, inklusif, dan ramah anak.

“Sebelumnya air mancur dalam bentuk kolam, sekarang dalam bentuk taman, dry fountain,” ujar Raymond.

Menurutnya, dry fountain dilengkapi dengan pancuran air dan lampu warna-warni yang menjadi daya tarik warga, khususnya anak-anak, terutama pada sore hingga malam hari. Namun, kebebasan bermain air tersebut justru memunculkan persoalan baru di lapangan.

Raymond mengungkapkan, bau pesing yang dikeluhkan warga diduga berasal dari perilaku pengunjung, terutama anak-anak yang bermain air sambil membawa makanan dan diduga buang air kecil di area dry fountain.

“Anak-anak itu seharusnya main air tidak sambil kencing. Mungkin karena bingung atau kebelet, akhirnya di situ,” ungkapnya.

Selain bau tak sedap, petugas juga menemukan sampah plastik sisa makanan di sekitar area dry fountain. Kondisi ini memperlihatkan bahwa konsep ruang publik modern tanpa pengawasan dan edukasi yang memadai berpotensi menimbulkan masalah kebersihan dan kenyamanan.

DLH Kota Malang mengaku baru akan melakukan evaluasi lanjutan. Langkah yang direncanakan antara lain pemasangan papan pengumuman larangan serta sosialisasi melalui pengeras suara yang diputar secara berkala.

“Nanti akan kita buatkan pengeras suara yang berulang-ulang, tiap beberapa menit memberikan pengumuman,” jelas Raymond.

Di sisi lain, Raymond juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam menjaga ketertiban di area dry fountain. Menurutnya, pengawasan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada petugas.

“Orang tua harus hadir dan mendampingi anak-anaknya saat bermain air. Kalau mau mandi, sebaiknya sering ditanya dulu apakah mau kencing atau tidak, baik sebelum maupun saat mandi,” pesannya.

Meski secara teknis dry fountain disebut masih aman digunakan, pernyataan DLH tersebut sekaligus menegaskan bahwa pengamanan dan pengawasan sejak awal pengoperasian fasilitas ini masih bersifat sementara dan belum maksimal.

Keluhan bau pesing di salah satu ruang publik utama Kota Malang ini menjadi alarm serius. Modernisasi fasilitas kota tidak cukup hanya mengandalkan konsep dan estetika, tetapi harus dibarengi manajemen yang matang, pengawasan ketat, serta edukasi publik yang konsisten agar ikon baru kota tidak justru berubah menjadi sumber keluhan warga.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *