Sudutkota.id– Sepanjang tahun 2025, angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masih menjadi perhatian serius.
Data Satlantas Polres Jombang mencatat sebanyak 249 orang meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di berbagai ruas jalan, mulai dari jalan kabupaten, provinsi, hingga jalan nasional.
Jumlah korban meninggal tersebut meningkat dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 239 orang. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 4,18 persen dalam kurun satu tahun terakhir.
“Korban meninggal dunia tahun 2025 mengalami peningkatan dibanding tahun 2024. Kami turut berbelasungkawa kepada keluarga para korban,” ujar Kasat Lantas Polres Jombang, Iptu Rita Puspitasari, Minggu 4 Januari 2026.
Selain korban jiwa, jumlah korban luka dan kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas di Jombang juga mengalami peningkatan.
Pada tahun 2024, tercatat korban luka berat sebanyak 5 orang, luka ringan 1.863 orang, dengan total kerugian materiil mencapai Rp1,62 miliar.
Sementara itu, sepanjang 2025 jumlah korban luka berat naik menjadi 10 orang, korban luka ringan mencapai 2.002 orang, dan kerugian materiil meningkat signifikan hingga Rp2,17 miliar.
“Data tahun 2025 menunjukkan peningkatan pada korban luka maupun nilai kerugian materiil akibat kecelakaan lalu lintas,” jelas Rita.
Meski angka korban meningkat, jumlah kasus kecelakaan lalu lintas di Jombang justru mengalami penurunan. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1.116 kejadian, sedangkan pada 2025 turun menjadi 938 kejadian.
Penurunan ini setara dengan 16,58 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Penurunan jumlah kejadian kecelakaan ini seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dalam tertib berlalu lintas,” imbuh Rita.
Menurut catatan Unit Gakkum Satlantas Polres Jombang, terdapat sejumlah faktor yang memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas.
Mulai dari faktor alam, kondisi jalan, kendaraan, pengemudi, hingga pengaruh teknologi.
Namun, faktor paling dominan penyebab kecelakaan adalah kelalaian pengemudi, seperti berkendara ugal-ugalan, mengantuk akibat kelelahan, kurang konsentrasi, serta pelanggaran aturan lalu lintas.
Untuk menekan angka kecelakaan, khususnya yang melibatkan generasi muda, kepolisian terus melakukan berbagai upaya preventif.
Salah satunya melalui sosialisasi dan edukasi keselamatan berlalu lintas di sekolah-sekolah dan pondok pesantren.
“Kami terus mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati dan waspada saat berkendara,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama bagi setiap pengguna jalan.
“Jangan sampai menjadi korban kecelakaan lalu lintas, terlebih sebagai pelaku. Keselamatan adalah yang paling utama,” tegasnya.
Rita menyebut Kapolres juga mengimbau para orang tua agar tidak sembarangan memberikan kendaraan bermotor kepada anak-anak yang belum cukup usia atau belum memiliki kelengkapan berkendara.






















