Daerah

Aksi Massa Ricuh di Mapolresta Malang Kota, PMII Bakar Water Barrier, Driver Ojol Tuntut Kapolri Mundur

17
×

Aksi Massa Ricuh di Mapolresta Malang Kota, PMII Bakar Water Barrier, Driver Ojol Tuntut Kapolri Mundur

Share this article
Massa pendemo membakar water barrier didepan polresta malang kota, Jumat (29/8/2025). (Foto: Sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Aksi besar-besaran yang digelar di depan Mapolresta Malang Kota, Jumat (29/8/2025), berakhir ricuh dan menegangkan. Dua kelompok massa berbeda, yakni mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Malang Raya dan komunitas driver ojek online, turun ke jalan dengan membawa tuntutan keras terhadap aparat kepolisian.

Sejak siang, ratusan mahasiswa PMII melakukan orasi di depan Mapolresta. Situasi mulai memanas ketika mereka membakar water barrier yang terletak di depan pintu masuk markas polisi. Aksi dilanjutkan dengan pelemparan batu dan botol ke arah halaman gedung. Sejumlah fasilitas milik kepolisian ikut menjadi sasaran, termasuk kamera CCTV di halaman depan yang dirusak, serta pintu gerbang sisi utara Mapolresta yang jebol akibat dorongan massa.

Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Nanang Harianto, bersama Pangdiv Kostrad sempat turun langsung menemui massa. Namun upaya dialog tersebut tidak mampu meredam emosi mahasiswa. Mereka tetap bertahan dan menekan aparat dengan aksi-aksi simbolik, bahkan sempat terjadi dorong-dorongan di pintu masuk Mapolresta. Kobaran api dari pembakaran water barrier membuat suasana semakin panas sebelum berhasil dipadamkan oleh petugas.

Baca Juga :  Sambut HUT Polwan ke-76, Polwan Polresta Malang Kota Goes to School Beri Wawasan Perlindungan Anak

Di tengah situasi tersebut, gelombang massa baru datang dari komunitas driver ojek online. Mereka melanjutkan aksi setelah sebelumnya melakukan konvoi. S

alah satu koordinator, Fauzi, menegaskan bahwa ada dua tuntutan utama yang mereka bawa. Pertama, menuntut pengusutan tuntas kasus kematian Affan Kurniawan, driver ojol yang tewas dalam aksi represif di Jakarta. Kedua, menuntut Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk mundur dari jabatannya.

“Kapolri harusnya punya rasa malu dan memiliki tanggung jawab. Harusnya dia mengundurkan diri dengan jiwa ksatria. Kebrutalan polisi khususnya Brimob sudah terjadi dua kali, pertama saat Tragedi Kanjuruhan dan kedua Tragedi Ojol,” tegas Fauzi lantang, disambut teriakan setuju para driver ojol lainnya.

Menanggapi aksi tersebut, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Harianto kembali menemui massa, kali ini langsung berhadapan dengan driver ojol. Ia meminta agar aksi dilakukan dengan kepala dingin dan tidak disertai tindakan anarkis yang merugikan semua pihak.

“Saya minta saudara-saudara tenang, Bapak Kapolri pasti akan melakukan tindakan tegas. Saat ini proses hukum sudah berjalan, kita tunggu hasilnya nanti,” papar Nanang di hadapan ratusan driver ojol.

Baca Juga :  Selebgram King Abdi Harus Berurusan dengan Polisi, Ada Apa?

Selama jalannya aksi, pengamanan dilakukan secara berlapis oleh aparat gabungan. Ratusan polisi dibantu personel TNI berjaga di halaman depan Mapolresta. Kehadiran aparat TNI menjadi bagian dari upaya memperkuat pengendalian massa, mengingat situasi sempat tidak terkendali. Barisan aparat ini membentuk pagar betis agar massa tidak masuk ke dalam gedung utama.

Hingga pukul 22.15 WIB, ribuan massa dari kedua kelompok masih bertahan di lokasi. Mereka terus melakukan pelemparan ke arah halaman Mapolresta dan bahkan menyalakan serta menembakkan petasan, membuat suasana malam semakin gaduh. Kepulan asap dari sisa pembakaran dan suara letupan petasan menambah ketegangan di sekitar markas kepolisian tersebut.

Aparat gabungan TNIPolri tetap siaga penuh dengan peralatan pengendalian massa. Situasi di sekitar Mapolresta Malang Kota hingga larut malam masih belum benar-benar kondusif, sementara pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait kerusakan fasilitas maupun tindak lanjut atas tuntutan massa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *