Sudutkota.id – DPRD Kota Malang menyoroti proyek pembenahan drainase di Jalan Soekarno-Hatta yang dikerjakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Sorotan muncul menyusul pemotongan sejumlah pohon di sepanjang koridor jalan tersebut yang hingga kini belum disertai kejelasan pengembalian penghijauan.
Anggota Komisi A DPRD Kota Malang dari Fraksi PDI Perjuangan, Harvard Kurniawan Ramadhan, SH, menegaskan proyek tersebut tidak boleh berhenti pada penyelesaian persoalan banjir semata, namun juga harus mempertanggungjawabkan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Proyek dari Pemprov ini menjadi sorotan kami di DPRD. Terlebih bagi Fraksi PDI Perjuangan, ini bertepatan dengan HUT ke-53 PDI Perjuangan yang membawa semangat merawat Pertiwi,” ujar Harvard saat dikonfirmasi Sudutkota.id, Sabtu (24/1/2026).
Ia menyayangkan kondisi di lapangan, di mana pohon-pohon di Jalan Soekarno-Hatta telah dipotong untuk kepentingan proyek drainase, namun hingga kini belum ada realisasi penanaman kembali.
“Kami sangat menyayangkan ketika proses pemotongan pohon dilakukan, tapi hari ini pohon-pohon tersebut tidak bisa ditanam kembali. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota Malang. Jangan sampai Kota Malang justru semakin panas,” tegasnya.
Menurut Harvard, persoalan banjir memang harus diselesaikan. Namun, penyelesaiannya tidak boleh mengorbankan fungsi ekologis kota, apalagi di tengah keterbatasan ruang terbuka hijau (RTH) yang selama ini sudah menjadi persoalan di Kota Malang.
“Kita harus berkaca ke Surabaya. Pemerintah Surabaya bisa menurunkan suhu kota dengan merawat pohon-pohon di lingkungan kota. Malang seharusnya bisa meniru, bukan malah kehilangan ruang hijau,” katanya.
Harvard juga meragukan efektivitas gorong-gorong jika berdiri sendiri tanpa dukungan vegetasi. Menurutnya, pepohonan memiliki peran penting dalam menyerap air hujan yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh infrastruktur beton.
“Tidak mungkin gorong-gorong saja bisa menampung air sebanyak itu. Pepohonan dan tumbuhan justru memiliki daya serap air yang besar. Kalau semuanya dicor, lalu hanya diganti pot-pot kecil, itu jelas tidak cukup,” kritiknya.
Ia mengingatkan, pemenuhan RTH sesuai Perda Tata Ruang Kota Malang selama ini saja sudah belum maksimal. Dengan adanya proyek Soekarno-Hatta, Harvard menilai kondisi tersebut justru semakin tergerus.
“Perda tata ruang kita untuk memenuhi lahan hijau saja sudah tidak mampu. Sekarang dengan proyek ini, banyak pohon di Soekarno-Hatta yang dipotong. Ini harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.
Karena itu, Harvard mendesak adanya pertanggungjawaban yang jelas dan tidak ingkar janji dari Pemkot Malang maupun Pemprov Jawa Timur terkait komitmen pengembalian penghijauan di kawasan Soekarno-Hatta.
“Apapun solusinya, pohon-pohon di Soekarno-Hatta harus dikembalikan. Mau dengan pergola, rekayasa lanskap, atau cara lain, silakan. Yang penting kawasan ini kembali teduh seperti sebelumnya,” tegasnya.
Sebagai langkah lanjutan, Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kota Malang akan membawa persoalan ini ke tingkat provinsi serta mengawalnya melalui mekanisme resmi di DPRD Kota Malang.
“Kami akan menyampaikan kepada anggota fraksi kami di provinsi agar proyek ini dievaluasi. Selain itu, melalui pandangan fraksi dan forum-forum DPRD, kami akan menagih janji agar penghijauan di Soekarno-Hatta benar-benar direalisasikan,” pungkas Harvard.
Ia menegaskan, penanganan banjir tidak boleh berujung pada kota yang semakin gersang dan tidak nyaman bagi masyarakat.






















