Daerah

Krisis Mental Mahasiswa Menguat, Amithya Dorong Peran Kampus dan Pemkot Malang

28
×

Krisis Mental Mahasiswa Menguat, Amithya Dorong Peran Kampus dan Pemkot Malang

Share this article
Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait maraknya kasus bunuh diri mahasiswa di kawasan Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat), Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jumat (23/1/2026). (Foto: Sudutkota.id/mit)

Sudutkota.id – Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, menyoroti menguatnya krisis kesehatan mental di kalangan mahasiswa menyusul maraknya aksi bunuh diri yang terjadi di kawasan Jembatan Soekarno-Hatta (Suhat), Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang. Lokasi tersebut diketahui berada di sekitar salah satu perguruan tinggi negeri, dengan sejumlah korban berasal dari kalangan mahasiswa.

Saat dikonfirmasi Jumat (23/1/2026), Amithya menyebut fenomena ini sebagai persoalan serius yang tidak bisa dipandang semata-mata sebagai masalah individu, melainkan krisis sosial yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

“Ini sangat memprihatinkan. Ketika kejadian serupa terus berulang, itu menunjukkan ada persoalan kesehatan mental yang belum tertangani secara serius, terutama di kalangan generasi muda,” ujar Amithya.

Ia menilai, derasnya arus informasi dan narasi negatif di media sosial turut memperburuk kondisi psikologis mahasiswa yang tengah berada dalam situasi mental tidak stabil. Dalam kondisi tersebut, ide-ide ekstrem dengan mudah dianggap sebagai jalan keluar atas tekanan hidup yang dihadapi.

“Saudara-saudara kita yang sedang mengalami ketidakstabilan mental itu membutuhkan jalan keluar. Sayangnya, narasi negatif yang beredar bisa membentuk pola pikir keliru, seolah-olah tindakan ekstrem menjadi solusi,” tegasnya.

Amithya menekankan, upaya mitigasi yang dilakukan pemerintah tidak boleh berhenti pada langkah-langkah fisik semata, seperti pemasangan pagar atau pengamanan lokasi rawan. Menurutnya, pendekatan tersebut penting, namun belum menyentuh akar persoalan.

“Tidak cukup hanya memasang pagar. Pemerintah Kota Malang harus melakukan tindakan yang masif, termasuk menata narasi yang lebih sehat dan membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan,” katanya.

Ia secara khusus mendorong adanya kolaborasi yang lebih kuat antara Pemerintah Kota Malang dengan perguruan tinggi. Mengingat kampus merupakan ruang hidup utama mahasiswa, peran institusi pendidikan dinilai sangat krusial dalam deteksi dini dan pendampingan kesehatan mental.

“Perlu ada koordinasi, dialog, dan komunikasi dengan kampus-kampus. Pemerintah harus hadir membantu, ikut andil dalam upaya pencegahan dan pendampingan mahasiswa,” jelasnya.

Lebih jauh, Amithya menilai fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswa tidak bisa dilepaskan dari kegelisahan generasi muda akibat tekanan sosial, ekonomi, hingga distrupsi teknologi yang mengubah perilaku dan etika sosial.

“Kondisi ini membuat generasi muda kita resah. Maka penyelesaiannya juga harus dilakukan secara gotong royong,” ujarnya.

Ia menegaskan pentingnya keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, institusi pendidikan, keluarga, hingga lingkungan sekitar.

“Orang tua, teman, sahabat, tetangga kanan-kiri harus peka. Kepedulian terhadap sesama, melihat tanda-tanda kesulitan, itu langkah sederhana tapi dampaknya luar biasa jika dilakukan bersama-sama,” pungkas Amithya.

Menurutnya, di tengah distruksi teknologi dan pergeseran perilaku generasi muda, kehadiran negara, kampus, dan masyarakat secara kolektif menjadi kunci utama agar tragedi kemanusiaan serupa tidak terus berulang di Kota Malang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *