Nasional

Banjir Pantura Jateng, 71.479 Jiwa Terdampak dan 2.440 Mengungsi

14
×

Banjir Pantura Jateng, 71.479 Jiwa Terdampak dan 2.440 Mengungsi

Share this article
Petugas gabungan BPBD dan relawan mengevakuasi warga menggunakan perahu karet di kawasan permukiman yang terendam banjir akibat hujan ekstrem di Pantura Jawa Tengah. (Foto: Dok. BNPB)

Sudutkota.id – Hujan ekstrem yang mengguyur wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah menyebabkan banjir meluas di sejumlah daerah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Senin (19/1), total 71.479 jiwa terdampak dan 2.440 jiwa harus mengungsi akibat bencana tersebut.

Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., mengatakan banjir berdampak pada permukiman warga, jalan utama, fasilitas publik hingga jalur transportasi strategis. Wilayah terdampak meliputi Kabupaten Demak, Kendal, Batang, Pemalang, serta Kota Pekalongan.

“Curah hujan yang sangat tinggi dalam durasi panjang memicu luapan sungai dan genangan luas di kawasan Pantura Jawa Tengah. Dampaknya signifikan terhadap aktivitas masyarakat dan infrastruktur,” ujar Suharyanto dalam keterangan resminya.

Di Kabupaten Demak, hujan lebat menyebabkan 3.825 rumah terdampak dengan 4.527 kepala keluarga atau sekitar 14.000 jiwa. Kecamatan Sayung menjadi wilayah terparah, terutama Desa Kalisari dengan 600 rumah, 600 KK, dan 2.400 jiwa terdampak, serta Desa Sayung dengan 958 rumah, 1.232 KK, dan 4.090 jiwa terdampak. Akses jalan utama Kalisari–Genuk terpaksa ditutup total akibat genangan air.

Selain itu, Kecamatan Karanganyar turut terdampak, khususnya Desa Wonorejo dengan 1.932 rumah, 1.932 KK, dan 6.129 jiwa terdampak. Genangan merendam fasilitas pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, hingga sekitar 100 hektare lahan sawah.

Banjir juga melanda Kabupaten Kendal dengan dampak di 28 desa pada enam kecamatan. Sebanyak 10.700 rumah terendam dan 27.119 jiwa dari 11.479 KK terdampak. Dua tanggul dilaporkan jebol, genangan merendam jalan utama, serta mengganggu jalur kereta api lintas Kaliwungu–Kalibodri sehingga dilakukan pengalihan jalur dan pembatalan jadwal perjalanan. Tinggi genangan bervariasi antara 10 hingga 70 sentimeter.

Di Kabupaten Batang, hujan deras menyebabkan genangan setinggi 20–70 sentimeter di 10 kelurahan dan desa. BNPB mencatat 18.270 jiwa terdampak, dengan 40 jiwa di antaranya mengungsi di Desa Cepagan.

Sementara di Kabupaten Pemalang, luapan Sungai Comal dan hujan lebat merendam 2.987 rumah serta tiga fasilitas sekolah. Sebanyak 12.090 jiwa dari 3.473 KK terdampak di sejumlah kecamatan, dengan ketinggian genangan berkisar 20 hingga 80 sentimeter. Kondisi di Kecamatan Randudongkal dilaporkan telah surut.

Kota Pekalongan turut mengalami dampak signifikan akibat limpasan dan luapan Sungai Bremi. Sebanyak 8.692 KK terdampak dan 2.400 jiwa mengungsi di empat kecamatan. Genangan setinggi 10–100 sentimeter merendam permukiman dan ruas jalan utama, serta mengganggu jalur kereta api Surabaya–Jakarta di KM 88+6/7. Pengungsi tersebar di 24 titik, dengan lokasi terbanyak di Aula Kecamatan Pekalongan Barat.

Dalam penanganan darurat, BNPB bersama BPBD provinsi dan kabupaten/kota, TNI, Polri, kementerian/lembaga, serta relawan melakukan evakuasi warga, pendirian posko dan dapur umum, distribusi logistik, layanan kesehatan, serta pemantauan debit sungai.

“Keselamatan masyarakat adalah prioritas. Kami terus berkoordinasi lintas sektor untuk percepatan evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pemulihan akses vital,” tegas Suharyanto.

BNPB juga melakukan normalisasi jalur rel kereta api di wilayah terdampak serta mengoperasikan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat yang berbasis di Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang. Upaya ini dilakukan untuk menurunkan intensitas hujan di wilayah terdampak dan daerah tangkapan air sekitarnya.

“OMC kami lakukan agar curah hujan tidak terkonsentrasi di kawasan rawan banjir. Ini bagian dari langkah mitigasi darurat untuk mengurangi risiko banjir susulan,” kata Suharyanto.

Hingga Senin pagi, genangan air masih terjadi di beberapa titik dan debit sungai terpantau fluktuatif. BNPB mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi peningkatan debit sungai apabila hujan kembali turun, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *