Daerah

Sejarawan Jombang: Narasi Bung Karno Lahir di Ploso Harus Dikelola Jadi Aset Wisata Sejarah

27
×

Sejarawan Jombang: Narasi Bung Karno Lahir di Ploso Harus Dikelola Jadi Aset Wisata Sejarah

Share this article
Pemerhati sejarah di Jombang, Jawa Timur Arif Yulianto atau akrab disapa Cak Arif, mengingatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang agar lebih serius mengelola narasi sejarah Bung Karno lahir di Ploso, Jombang.
Rekontruksi kedatangan Cyndi Adam di Ploso Jombang. (foto: sudutkota.id/lok)

Sudutkota.id– Pemerhati sejarah di Jombang, Jawa Timur Arif Yulianto atau akrab disapa Cak Arif, mengingatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jombang agar lebih serius mengelola narasi sejarah Bung Karno lahir di Ploso, Jombang.

Menurutnya, narasi tersebut merupakan aset besar daerah yang berpotensi memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekaligus menambah pendapatan daerah.

Cak Arif menegaskan, narasi sejarah kelahiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, tidak boleh berhenti sebatas wacana atau perspektif akademik semata.

Ia menilai, Pemkab Jombang harus responsif menangkap peluang sejarah tersebut sebagai modal pembangunan berbasis budaya.

“Dengan narasi sejarah yang ada, seharusnya ini menjadi komitmen kuat Pemkab Jombang. Tidak cukup hanya jadi perspektif, tapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata,” ujar Cak Arif, Minggu 18 Januari 2026.

Berdasarkan kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Jombang serta penelusuran para sejarawan, Bung Karno diyakini lahir di Ploso, Jombang pada 6 Juni 1902.

Keyakinan tersebut didukung oleh sejumlah data tertulis maupun cerita tutur yang berkembang di masyarakat.

“Seharusnya ini menjadi kebanggaan besar bagi Jombang. Bung Karno adalah proklamator sekaligus Presiden pertama RI, dan diyakini lahir di wilayah kita,” tegas Cak Arif.

Cak Arif menyebut, sejumlah langkah konkret dapat segera dilakukan Pemkab Jombang. Di antaranya adalah penetapan situs kelahiran Bung Karno di Ploso sebagai cagar budaya peringkat kabupaten, diikuti dengan upaya pelestarian dan pemanfaatan yang terencana.

Ia juga mengungkapkan, bekas rumah kelahiran Bung Karno di Ploso hingga kini masih berstatus milik pribadi. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

“Kalau memang masih milik pribadi, ini harus mulai dipikirkan. Bila perlu dibeli oleh Pemkab Jombang. Ini jejak orang penting bangsa, sudah semestinya diperlakukan secara istimewa,” ujarnya.

Lebih jauh, Cak Arif menekankan pentingnya rekonstruksi rumah kelahiran Bung Karno, penataan lingkungan sekitar, hingga pengembangan UMKM lokal sebagai bagian dari destinasi wisata sejarah.

“Ini aset luar biasa. Kalau dikelola dengan baik, dampaknya bukan hanya soal sejarah, tapi juga ekonomi masyarakat,” tandasnya.

Senada dengan itu, Budayawan Jombang Nasrul Ilah sebelumnya juga menyatakan bahwa narasi Bung Karno lahir di Jombang merupakan kebanggaan tersendiri bagi daerah.

“Ini tentu menjadi kebanggaan tersendiri, Bung Karno lahir di Jombang,” ujar Nasrul Ilah atau Cak Nas, yang merupakan adik kandung dari budayawan MH. Ainun Najib.

Ia berharap, jika nantinya Situs Kelahiran Bung Karno di Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso resmi ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten, pemerintah dapat segera melakukan pemugaran.

Tak hanya itu, Cak Nas juga menekankan pentingnya transformasi nilai-nilai kebangsaan di kawasan tersebut, terutama bagi generasi muda dan pelajar.

“Ketika dikembangkan menjadi destinasi wisata warisan sejarah, nilai-nilai kebangsaan yang dicetuskan Bung Karno harus diajarkan dan dihidupkan di lokasi itu,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *