Sudutkota.id– Sebanyak 130 hektare lahan pertanian di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, terdampak banjir luapan Kali Marmoyo.
Meski kondisi air mulai berangsur surut, potensi banjir susulan masih mengancam karena intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah hulu.
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ploso, Syaifuddin, mengatakan pihaknya telah melakukan pendataan terhadap lahan pertanian yang terendam banjir.
“Total ada sekitar 130 hektare sawah yang terendam banjir di Kecamatan Ploso,” ujar Syaifuddin, Sabtu 17 Januari 2026.
Banjir pertanian tersebut tersebar di tiga desa, dengan luasan terbesar berada di Desa Gedongombo yang mencapai sekitar 70 hingga 80 hektare.
Sementara di Desa Jatigedong sekitar 30 hektare, serta sebagian lahan di Desa Ploso yang berbatasan langsung dengan Desa Jatigedong.
Menurut Syaifuddin, genangan air mulai surut sejak 12–13 Desember, seiring berkurangnya curah hujan di wilayah atas.
Meski demikian, hingga kini masih terdapat sawah yang tergenang sehingga dampak kerusakan tanaman belum dapat dipastikan secara keseluruhan.
“Sampai hari ini belum bisa kami pastikan berapa luas tanaman yang mati, karena masih ada sawah yang tergenang air,” imbuhnya.
Data dampak banjir tersebut telah dilaporkan ke Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang dan ditindaklanjuti bersama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).
Pasalnya, sebagian lahan yang terdampak sudah ditanami padi dan terdaftar dalam program asuransi pertanian.
“Pihak asuransi sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan,” tambah Syaifuddin.
Meski banjir mulai surut, kewaspadaan tetap diperlukan. Syaifuddin menyebut, hujan kembali turun dalam beberapa hari terakhir sehingga potensi banjir susulan masih terbuka.
“Wilayah ini memang langganan banjir pertanian. Mayoritas persoalannya karena luapan Kali Marmoyo,” jelasnya.
Di wilayah Jatigedong dan Ploso, terdapat pertemuan aliran sungai yang bermuara ke Kali Marmoyo. Kondisi tanggul sungai yang sejajar dengan lahan pertanian, ditambah sejumlah titik tanggul yang rusak, membuat air mudah meluap ke sawah saat debit sungai meningkat.
“Banyak tanggul yang rusak dan membutuhkan normalisasi. Namun saat ini belum bisa dilakukan karena kondisi air masih tinggi. Begitu debit penuh, air langsung luber ke sawah,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Desa Gedongombo, Lasiman, membenarkan bahwa banjir di wilayahnya mulai berangsur surut, meski belum sepenuhnya kering.
“Sampai hari ini memang surut, tapi belum total. Masih ada sebagian sawah, terutama yang posisinya rendah, yang masih terendam,” kata Lasiman.
Terkait kondisi tanaman padi, Lasiman menyebutkan dampaknya bervariasi. Sebagian kecil tanaman dilaporkan mati dan membutuhkan tanam ulang, namun tidak dalam jumlah besar.
“Ada sebagian tanaman yang mati dan perlu ditanam ulang, tapi jumlahnya relatif kecil,” ujarnya.
Meski demikian, kekhawatiran petani masih tinggi mengingat musim hujan masih berlangsung dan wilayah tersebut kerap mengalami banjir berulang.
“Petani khawatir, karena di sini tidak hanya sekali banjir. Takutnya setelah ini surut, akan banjir lagi,” tambahnya.
Pihak desa berharap ada solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir luapan Kali Marmoyo. Lasiman mencontohkan kondisi pendangkalan parah di wilayah Desa Bakalanrayung, Kecamatan Kudu, yang sebelumnya telah mendapat penanganan sementara.
“Harapannya, air bisa cepat surut meskipun banjir, sehingga genangan tidak berlangsung lama. Ke depan, paling tidak ada solusi permanen untuk penanganan Kali Marmoyo,” pungkasnya.






















