Sudutkota.id – Perayaan malam pergantian tahun 2025 ke 2026 tidak sepenuhnya membawa berkah bagi pelaku usaha perhotelan di Kota Batu. Tingkat keterisian kamar hotel tercatat mengalami penurunan dibandingkan momen tahun baru sebelumnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu, Sujud Hariadi, mengungkapkan bahwa okupansi hotel saat malam tahun baru hanya berada di kisaran 70 persen. Angka tersebut turun sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan capaian tahun baru 2024 lalu.
“Rata-rata okupansi hotel di Kota Batu saat malam tahun baru kemarin hanya sekitar 70 persen,” ujar Sujud, Senin (5/1/2026).
Ia membandingkan, pada pergantian tahun 2024 ke 2025 lalu, tingkat hunian hotel di Kota Batu mampu menembus angka 90 persen.
*Penurunan ini tidak hanya terjadi di Batu, tetapi juga dirasakan hampir di berbagai daerah wisata di Indonesia,” paparnya.
Menurut Sujud, melemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, semakin banyaknya destinasi wisata baru di daerah lain membuat wisatawan memiliki lebih banyak alternatif untuk menghabiskan libur akhir tahun.
“Sekarang hampir semua daerah berlomba membangun sektor pariwisata. Pilihannya jadi semakin banyak,” jelasnya.
Kondisi tersebut diperparah dengan maraknya pilihan akomodasi non-hotel, seperti vila, homestay, dan penginapan alternatif lainnya yang kian diminati wisatawan.
Tak hanya itu, Sujud menilai situasi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih juga mendorong masyarakat memilih berwisata tanpa menginap. Pola perjalanan semacam ini turut berdampak pada tingkat hunian hotel di Kota Batu.
“Secara umum, tingkat kunjungan wisatawan memang terlihat menurun,” pungkasnya.






















