Pendidikan

Omah Sinau Sikho, Harapan Baru Anak Buruh Rokok di Penarukan

181
×

Omah Sinau Sikho, Harapan Baru Anak Buruh Rokok di Penarukan

Share this article
Ruang belajar alternatif bernama Omah Sinau Sikho kini hadir sebagai wadah bermain, belajar, dan mengenal budaya lokal. (Foto: sudutkota.id/ris)

Sudutkota.id – Di tengah hiruk pikuk mesin pabrik rokok yang berdiri megah di wilayah Kepanjen, sekelompok pemuda menghadirkan secercah harapan bagi anak-anak buruh. Ruang belajar alternatif bernama Omah Sinau Sikho kini hadir sebagai wadah bermain, belajar, dan mengenal budaya lokal.

“Kami ingin anak-anak di sekitar sini tetap punya ruang tumbuh yang sehat,” ujar Orien, salah satu penggagas, kepada sudutkota.id, Rabu (20/8/2025).

Indonesia masih menghadapi ketimpangan pendidikan yang cukup lebar. Data BPS 2024 mencatat rata-rata lama sekolah nasional hanya 8,8 tahun, jauh tertinggal dari standar ideal. Di sisi lain, anak-anak buruh rokok kerap menghadapi keterbatasan waktu, fasilitas, dan dukungan belajar di rumah.

“Melalui Sikho, kami mencoba menambal kekurangan itu dengan pendekatan komunitas,” jelas Orien.

Berbeda dengan sekolah formal yang seringkali berjarak dengan realitas anak buruh, Sikho menawarkan metode belajar inklusif. Anak-anak diajak mengenal nilai-nilai lokal, bermain bersama, sekaligus belajar seni dan budaya.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga memiliki adab dan karakter,” tutur Orien.

Kehadiran Sikho menjadi penting untuk mencegah anak-anak larut dalam ketergantungan gadget yang kian meresahkan. Para pemuda perintis ini menghadirkan kegiatan kreatif agar dunia anak tetap hidup.

“Kami ingin mengurangi risiko anak kehilangan masa kecilnya hanya karena gadget,” ucap Orien.

Selain itu, Sikho berperan sebagai jembatan komunikasi antara sekolah dan orang tua buruh rokok. Banyak keluarga yang hidup pas-pasan dengan gaji Rp3,5–5 juta per bulan, membuat perhatian terhadap pendidikan anak sering terabaikan.

“Kami ingin orang tua merasa bahwa ada pihak yang membantu mereka menjaga semangat belajar anak,” kata Orien.

Dengan dukungan masyarakat sekitar, program ini diharapkan mampu menjadi model pendidikan alternatif yang bisa direplikasi di wilayah lain dengan kondisi serupa.

“Kami percaya perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil di kampung kami sendiri,” ujar Orien.

Di balik gemuruh industri rokok, Omah Sinau Sikho hadir sebagai simbol perlawanan atas keterbatasan. Ruang sederhana ini menyimpan harapan agar anak-anak buruh memiliki masa depan lebih cerah.

“Kami yakin anak-anak ini bisa mengangkat derajat keluarganya dengan ilmu dan adab yang baik,” pungkas Orien. (ris)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *